Soal Anggaran Covid-19, Warga Anggap Dirinya Dibisniskan

Warga berkumpul menolak rapid test.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Pembagian sembako lagi-lagi disoal. Masalah itu diungkapkan warga setelah menolak rapid test di wilayahnya, Jalan Cakalang, Kota Makassar.

Mereka satu suara menolak dan mengeluhkan pembagian sembako selama pandemi Covid-19 ini. Ketua RW 5, Rafiuddin, banyak mendengar warganya mengaku tidak dapat sembako dari pemerintah.

"Pembagian sembako tidak merata. Kemarin juga mereka (warganya) mendengar, pencairan dana Covid-19 sebesar Rp300 triliun. Mereka menganggap, rakyat ini dibisniskan dengan alasan corona," katanya kepada wartawan, Sabtu (6/6/2020).

Setelah mendengar itu, warga pun sontak berteriak. Mereka kecewa dengan pembagian kebutuhan pokok rumah tangga tersebut. Kekesalan mereka bertambah saat ada petugas yang akan datang untuk menggelar rapid test di perkampungannya.

Informasi itu didengar oleh warga sejak sekitar pukul 09.00 Wita, pagi tadi. Alasannya, hasil tes tersebut dianggap selalu tidak akurat. Apalagi beberapa informasi, soal pasien yang memiliki sakit musiman, justru dijadikan PDP oleh rumah sakit.

Selain itu, Rafiuddin memastikan wilayah dan seluruh warganya aman dan tidak tertular dari Covid-19.

"Mereka melihat ada rapid test di pasar. Jadi warga takutnya didatangi. Mungkin karena flu biasa, atau demam di musim saat ini, warga langsung takut dan mengunci rumah mereka," jelasnya.

Informasi akan dilakukan rapid test itu pun ditolak. Bahkan memalang seluruh akses masuk ke jalan rumahnya, dengan sebatang bambu, kayu, dan beberapa benda lainnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...