Pengacara Terdakwa Sebut Penyiraman Air Keras ke Novel Hal Biasa

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID,JAKARTA– Terdakwa penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette menyampaikan nota pembelaan atau pledoi. Dalam nota pembelaan yang disampaikan tim penasihat, institusi Polri disebut harus bertanggung jawab terkait kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang terjadi pada 11 April 2017.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa pemberitaan penyiraman air keras kepada saksi korban pada 11 April 2017 telah menimbulkan polemik yang tidak berkesudahan selama lebih kurang dua tahun,” kata Tim Hukum dua oknum Brimob Polri, yang di ketuai Rudy Heriyanto membacakan pleidoi di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara, Senin (15/6).

Menurutnya, selama dua tahun kasus penyerangan terhadap Novel bergulir, telah dibentuk tim pencari fakta dan pihak kepolisian melakukan proses penyelidikan dan penyidikan. Tim hukum menyebut, tidak sedikit orang yang mencibir agar Polri segera menjerat pelaku.

“Kepolisian seolah menjadi bulan-bulanan di media massa. Bahkan kemudian ada pihak-pihak tertentu yang dimana saksi korban bekerja dengan institusi Polri. Karena kepolisian yang tidak mampu mengungkap peristiwa yang dianggap oleh orang-orang tertentu, sebagai suatu peristiwa yang mudah untuk diungkap,” ucap Rudy.

Menurutnya, peristiwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan merupakan hal yang biasa. Kasus tersebut dipandang bisa menimpa setiap orang.

“Sebenarnya kejadian yang menimpa saksi korban merupakan kejadian yang dapat dikategorikan sebagai peristiwa yang sering terjadi dan dapat menimpa siapa saja,” ujar Rudy.

  • Bagikan