Soal 7 Terdakwa Makar Asal Papua, Polri Nyatakan Bukan Tahanan Politik

Rabu, 17 Juni 2020 19:40

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono. (Polri/Antara)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Tujuh terdakwa asal Papua yang menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Balikpapan atas dugaan makar merupakan pelaku kriminal murni, bukan tahanan politik. Akibat provokasi mereka, banyak warga Papua yang mengalami kerugian, baik materiel maupun harta benda.

Kadiv Humas Polri Irjen Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono menegaskan, mereka adalah murni pelaku kriminal yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan di Papua. Khususnya, di Kota Jayapura. Kelompok-kelompok kecil yang menggelar aksi unjuk rasa sengaja mengembuskan isu bahwa tujuh terdakwa makar itu merupakan tahanan politik.

”Jelas mereka pelaku kriminal sehingga saat ini proses hukum yang dijalani oleh mereka adalah sesuai dengan perbuatannya,” kata Argo seperti dilansir dari Antara pada Rabu (17/6).

Argo mengatakan, polisi memiliki alasan karena sejak awal sudah mengumpulkan bukti sehingga harus menjadikan para terdakwa sebagai pelaku makar. ”Kami berharap penegakan hukum Papua tidak dianggap sebagai persoalan politik karena ini murni kriminal,” ujar Argo lagi.

Sebelumnya, tujuh pemuda asal Papua diproses hukum karena diduga terlibat dalam aksi protes yang kemudian berujung kekerasan di Jayapura pertengahan tahun lalu. Proses hukum mereka kemudian berlanjut hingga ke persidangan di Pengadilan Negeri Balikpapan.

Tujuh terdakwa itu yakni mantan Ketua BEM Universitas Cenderawasih Ferry Kombo yang dituntut 10 tahun penjara, Ketua BEM Universitas Sains dan Teknologi Jayapura Alex Gobay dituntut 10 tahun penjara, Hengky Hilapok dituntut 5 tahun penjara, dan Irwanus Urobmabin dituntut 5 tahun penjara. Berikutnya, Buchtar Tabuni dituntut 17 tahun penjara, Ketua KNPB Mimika Steven Itlay dituntut 15 tahun penjara, dan Ketua Umum KNPB Agus Kossay dituntut 15 tahun penjara.

Komentar