Ambo Nai, Film Komedi Bugis Bone YouTube Hanya Sampingan, Melaut yang Utama

Senin, 22 Juni 2020 12:21
Ambo Nai, Film Komedi Bugis Bone YouTube Hanya Sampingan, Melaut yang Utama

AGUNG PRAMONO/FAJAR KOMPAK. Kru film pendek "Ambo Nai Anak Jalanan" berlatar belakang para nelayan asal Kabupaten Bone. Mereka menjadi ikon baru dari Dusun Tippulue, Kelurahan Toro, Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Tak ada alur cerita, apalagi naskah. Semua adegan tiba masa, tiba akal. Intinya lucu dan menghibur.

Laporan: AGUNG PRAMONO

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — “Auuuuu, dena mbe. Ulikingno. Uliking tongenno”. Kalimat itu yang kini tengah viral dan selalu disebut-sebut oleh anak kecil maupun orang tua. Bahkan dalam gim Rally Fury, banyak yang menjadikannya sebagai ID gim.

Kata uliking (diputar) dipopulerkan dalam film pendek “Ambo Nai Anak Jalanan” garapan Timur Kota Official. Cerita persahabatan dari kecil di bagian timur kota Bone atau Dusun Tippulue, Kelurahan Toro, Kecamatan Tanete Riattang Timur.

Kamis, 18 Juni malam, jarum jam menunjukkan pukul 21.15 Wita. Di Jalan Laksamana Yos Sudarso, poros ke Pelabuhan Bajoe, ada banyak kendaraan parkir di pinggir jalan. Di depannya ada penjual sayur. Rupanya mereka datang untuk melihat kru dan pemain Timur Kota Official.

Satu per satu warga yang datang, meminta sang aktor utama, Ambo Nai untuk membuat video dan berswafoto. Semua dilayani. Per kelompok maupun per orang. “Uangmu Rp2.000, besok saya ganti,” canda Ambo Nai jika ada yang memintanya buat video.

Belum selesai di situ saja. Warga yang datang banyak melakukan video call (VC) dengan kerabatnya dari jauh. Alasannya hanya satu, mau melihat kedipan mata Ambo Nai. Paling banyak dari Sulawesi Tenggara. Bahkan, ada satu kompi anggota Brimob yang melakukan VC dan meminta satu kalimat. “Yako engka gangguko pudang bawangni, iyya anggotana Ambo Nai,” katanya membuat mereka tertawa.

Di rumah produksi tersebut, hanya satu kru yang tidak ada, yakni Sape. Pemilik nama asli Syahrul itu sedang berada di tengah laut mencari ikan. Memang profesinya sebagai nelayan. Sedangkan yang lainnya, ada di dalam rumah produksi itu. Sekitar pukul 22.20 Wita, baru bisa mengajak bercerita produser film tersebut, namanya Aji Ecank.

Baca Juga: Perkembangan Terbaru dari Kasus Penyerangan Kelompok John Kei

Menurutnya, film garapan pertama tidak ada judulnya. Namun semua orang menyebutnya Jinbe (Jin Beleng). Pemainnya Kaddu, Pudding, dan Saidah yang jadi pemeran utama. Itu tahun 2015 lalu. Awalnya hanya iseng-iseng, tidak ada tujuan mau nongol di YouTube.

“Setelah itu tidak ada lagi video. Karena banyak lari ke gim dan sepak bola. Tujuannya untuk menaikkan nama Timur Kota,” katanya.

Barulah pada Februari 2020, mulai lagi dengan film sekarang ini “Ambo Nai Anak Jalanan”. Start dari 10.000 subscriber. Episode pertama lagi-lagi tidak ada judulnya, durasi satu jam lebih. Episode kedua baru ada judulnya. “Alur cerita ada, naskah tidak ada. Sama kayak cerita biasa, apa-apa dipikiran ta spontan,” sebutnya tertawa.

Lelaki kelahiran Tippulue, 30 April 1992 itu yang memodali awalnya. Uang yang dikeluarkan Rp20 juta lebih untuk melengkapi peralatannya. Sebagiannya dibantu lagi oleh Karisman Saputra alias Pirange. “Adsense sudah lama. Alhamdulillah, bulan ini tembus Rp13 juta. Hasilnya dibagi rata,” ucapnya.

Untuk kontennya akan konsisten sama komedi Bugis. Awalnya film garapan suami Irianti itu hanya berdurasi lima menit. Setelah itu, banyak permintaan penonton untuk menambah durasi dan episode. Namun yang pasti film ini hanyalah sampingan saja.

“YouTube ini hanya sampingan, kita ini fokus mencari ikan di laut. Kalau pas jadwal syuting ada kapal, ya berhalangan lagi,” beber ayah tiga anak itu.

Saat ini akun YouTube Timur Kota Official sudah menembus 101 ribu subscriber, dengan 9.612.064 viewers. Hanya selang tiga atau empat hari, akan ada video baru lagi jika cuaca mendukung.

Saat ditanyakan sejarah nama Ambo Nai, ternyata hanyalah nama-nama orang terdahulu saja yang dipopulerkan kembali. “Intinya ceritanya nama-nama Bugis. Ambo Nai memang dicari nama yang unik, baru disebut sudah lain-lain di dengar,” sebut Syaiful Muharram alias Ambo Nai.

Syaiful kini dikenal dengan istilahnya Ulikingno. Pada saat awal-awal syuting sering grogi, sekarang sudah tidak lagi. Bahkan sering berhenti sejenak ketika sudah mau syuting. “Roling kamera, jolo pa mattoleki (tunggu ka merokok ki, red),” kelakarnya.

Bagi suami Sri Damayanti itu, dalam pengambilan satu gambar memang membutuhkan waktu lima jam. Itu pun tergantung dari mood saja. “Kalau mood bagus tidak terlalu lama. Apalagi kalau habis uang di dompet, pasti bagus video. Karena di pikiran ada uang ujungnya ini video,” ucapnya terbahak-bahak.

Ayah dua anak itu mensyukuri atas pencapaiannya saat ini. Keluarga juga bisa mengerti kalau kurang waktu di rumah. “Itu ji tidak na mengerti kalau saya bilang menikah lagi,” candanya.

Ada hal yang unik yang jarang orang ketahui. Siapa para kru dan pemain film tersebut? Sang produser Aji Ecank punya tiga kapal, Karisman Saputra alias Bosnya Pirange punya empat kapal, serta Fendi Pradana alias Malla dan Ardiansah alias Pudding (Pak Komandan) memiliki orang tua yang juga juragan kapal. Sedangkan Ambo Nai alias Syaiful Muharram adalah seorang sopir yang dalam sepekan harus mengantar ikan ke Sidrap, Makassar, atau pun Sulawesi Barat. (*/yuk-ham)

Bagikan berita ini:
6
9
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar