Muhammadiyah: Puasa Arafah Bisa Dilaksanakan Meski Wukuf Ditiadakan

ILUSTRASI. (int)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Jelang Iduladha 1441 H, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui edaran Nomor 06/Edr/I.0/E/2020 menyatakan bahwa Puasa Arafah 1441 H jatuh pada Rabu Wage, 22 Juli 2020 M.

Puasa Arafah merupakan ibadah yang dilaksanakan pada hari kesembilan bulan Zulhijah atau satu hari sebelum dilaksanakannya ibadah salat Iduladha.

Sebagai ibadah yang sangat dianjurkan (sunah muakkad) bagi setiap muslim, berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, Puasa Arafah memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa kecil di antara tahun dikerjakannya puasa dengan tahun sebelumnya.

Putusan Tarjih pada Munas XXVI tahun 2003 (yang belum ditanfidz oleh PP) tentang hikmah puasa tathawwu‘ menyebutkan pahala tersebut berlaku jika puasa yang dijalankan didasarkan pada komitmen otentik untuk meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat yang sekaligus terefleksikan dalam perbuatan nyata.

Berkaitan dengan masa pandemi yang memungkinkan tidak dilakukannya ibadah Haji, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Syamsul Anwar menyatakan bahwa Puasa Arafah tetap bisa dilaksanakan karena tidak bergantung pada ada atau tidaknya ibadah wukuf di Arafah.

“Dalam fatwa Majelis Tarjih, Puasa Arafah tetap (dapat) dilaksanakan. Dilaksanakan pada hari jamaah melaksanakan wukuf di hari Arafah, yakni 9 Zulhijah, satu hari sebelum Iduladha,” ungkap Syamsul Anwar dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2020).

Mengutip hadis, Syamsul Anwar juga menuturkan bahwa Baginda Rasulullah SAW beserta para sahabat tetap menjalankan puasa arafah meski belum mampu melaksanakan ibadah haji. (endra/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...