Budidaya Bawang Merah TSS Untungkan Petani, Kementan Dorong Teknologi Soyblok Sider

FOTO: ISTIMEWA

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani bawang merah untuk beralih menggunakan biji (True Shallot Seed/TSS) dibanding umbi sebagai benih. Budidaya TSS dinilai lebih efisien dan menguntungkan bagi para petani.

Demikian intisari diskusi virtual GEDOR HORTI in Action bertajuk ‘Raup Untung Dengan Budidaya Bawang Merah Biji/TSS’, Kamis (25/6).

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, selain faktor harga yang terjangkau, produktivitasnya juga lebih bagus ketimbang umbi.

“Memang butuh upaya ekstra dibanding menggunakan benih umbi. Waktunya relatif lebih panjang kurang lebih 1,5-2 bulan, lebih panjang dari budidaya menggunakan umbi,” jelas dia.

Sekalipun demikian, dia mengatakan bahwa satu keunggulan lainnya penggunaan benih TSS ini produksinya lebih tinggi dibanding menggunakan umbi. Prihasto lantas mencontohkan budidaya bawang merah benih TSS di Kabupaten Malaka.

Di sana, kata dia, belum pernah ada petani yang menanam bawang merah. Mereka kemudian mencoba mengimplementasikan benih TSS. Cara penanamannya masih sangat sederhana sekali, jadi benihnya hanya ditabur tanpa disemaikan dulu.

“Karena tanahnya subur, hanya menggunakan pupuk kandang sekitar 7-10 ton itu bisa menghasilkan sekitar 20 ton per hektar dan hasilnya besar-besar. Sampe saya bawa sampelnya ke kantor,” beber Anton.

“Kurang lebih per kilo nya berisi 18-20 umbi. Memang dia menggunakan kalo gak salah varietasnya tuk tuk. Saking besarnya jadi mirip bawang bombay merah,” lanjutnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...