Lebih Penting Mendisiplinkan Masyarakat Dibanding Rapid Test Masif

Minggu, 28 Juni 2020 14:57

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Upaya menekan angka penularan Covid-19, pemerintah gencar melakukan rapid test. Dilakukan secara masif di suatu daerah memang patut diapresiasi, tetapi itu bukan prestasi.

Itu adalah wujud dari tanggung jawab sebagai konsekuensi dari meningkatnya kasus Covid di daerah tersebut.

Guru Besar Fisika Teoretik FMIPA Universitas Hasanuddin, Prof Tasrief Surungan, meminta masyarakat dan pemerintah jangan sampai terhinggapi perasaan aman dan confidensi setelah pelaksanaan rapid test itu. Sebab, tingkat kepercayaan hasil dari tes singkat cukup rendah, dan hasil negatifnya bukan legitimasi untuk mengabaikan protokol kesehatan.

Prof Tasrief menjelaskan, tujuan rapid test itu bagus untuk mengendalikan laju pertumbuhan kasus Covid. Hasilnya dapat digunakan untuk tindak lanjut penanganan orang-orang yang terindikasi reaktif. Kendati demikian, perlu pula diingatkan bahwa hasil non-reaktif (negatif), tidak boleh menjadi alasan seseorang untuk over-confidence lalu mengabaikan protokol kesehatan.

Jika mengacu pada teori jaringan dalam kaitannya dengan pengendalian kurva pertumbuhan pandemik Covid-19, strategi paling ampuh adalah pembatasan interaksi sosial.

“Artinya, rapid test masif justru bisa kontra produktif, jika tidak menerapkan pembatasan interaksi sosial yang memadai, misalnya dalam bentuk social dan physical distancing,” terang Prof Tasrief kepada fajar.co.id, Minggu (28/6/2020).

Jadi apa urgensi melaksanakan rapid test secara masif? “Lebih tepatnya tidak urgen. Sebab, selain tingkat akurasinya yang rendah, juga bisa menimbulkan perasaan aman yang semu,” tegas Prof Tasrief.

Bagikan berita ini:
1
5
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar