Tiga Menteri Rawan Direshuffle, Mentan Dinilai Masih Aman

Mentan SYL

"Tuntutan Jokowi kan begitu. Saat kondisi sulit begini, kok kinerjanya biasa- biasa saja. Itu pesan keresahannya," tuturnya.

Pernyataan Jokowi ini bisa juga berarti peringatan bagi menteri yang berkinerja buruk. Juga sinyal bagi parpol pendukung untuk segera menyiapkan kader terbaiknya.

Bisa mengganti menteri asal parpol lain atau mengganti menteri jatahnya dengan kadernya yang lain. "Jadi memang ada tuntutan lebih keras. Apalagi Jokowi menyebut rela tidak populis karena sudah di periode keduanya menjabat," bebernya.

Wakil Dekan I FISIP Unhas ini menuturkan persoalan pandemi ini memang berefek besar ke berbagai sektor. Ada kesehatan, ekonomi, perdagangan, perindustrian, sosial, tenaga kerja dan sebagainya. Menteri-menteri di sektor ini yang peluangnya besar untuk dievaluasi.

"Jadi warning. Kondisi ini akan makin buruk bila tak segera ditangani. Untuk mempercepat kinerja, saya kira sah-sah saja. Terkait tepat atau tidak, bergantung figur. Jokowi tentu bertaruh di sini," jelasnya.

Ditambahkan, Pengamat politik, Andi Ali Armunanto, sejak awal tahun, kabinet Indonesia Maju ini bisa dibilang berkinerja buruk atau rapornya merah. Hal itu bila dibanding periode pertama. Di mana ada perlambatan kinerja kabinet.

"Mungkin juga karena kabinet jilid II ini lebih bernuansa kompromi politik. Ini diperparah dengan adanya pandemi covid-19," ungkapnya kepada FAJAR, Senin, 29 Juni.

Menurutnya, ada beberapa sektor yang kinerjanya cukup buruk. Seperti bidang kesehatan, sektor perekonomian, pengangguran meningkat hingga bidang sosial. Ada banyak problem yang muncul padahal di saat pandemi ini butuh kinerja tinggi.

"Penyaluran bansos kacau karena data penerima tidak sinkron. Belum lagi pelandaian kurva covid-19 belum terlihat. Gugus tugas tidak terkordinasi baik dari pusat ke daerah dan sebagainya," bebernya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Adi Mirsan


Comment

Loading...