Tiga Menteri Rawan Direshuffle, Mentan Dinilai Masih Aman

  • Bagikan
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Perombakan kabinet dinilai sudah sangat mendesak. Sesuai tuntutan publik. Khusus posisi menteri pertanian dinilai masih aman.

Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko enggan bicara eksplisit terkait reshuffle kabinet. Ia hanya membenarkan presiden bakal mempertaruhkan reputasi politiknya.
"Maknanya, presiden mengambil langkah-langkah yang memberikan contoh kepada bawahannya," ungkapnya di Bina Graha kemarin.

Ia mengibaratkan langkah presiden seperti para panglima di medan perang. Dalam dunia militer, ada tiga langkah yang harus diambilk seorang panglima di lapangan dalam mengatasi krisis. Pertama, panglima atau komandan harus hadir di lapangan.

"Kita lihat Pak Presiden. Surabaya, Jawa Timur masih merah, (tetap) ke lapangan. Itu ciri-ciri panglima, selalu hadir dalam situasi kritis," lanjut mantan Panglima TNI itu.

Kedua adalah mengerahkan senjata bantuan. Dalam hal ini, yang digunakan presiden adalah bansos. Sementara, langkah ketiga adalah mengerahkan kekuatan cadangan.
Kekuatan cadangan hanya dikeluarkan pada saat-saat terakhir. Jika kekuatan cadangan keluar, artinya kondisi memang buruk.
Yang berusaha dicegah, kata Moeldoko, jangan sampai presiden mengeluarkan kekuatan cadangan itu.

Tetapi, ia enggan memastikan bahwa bentuk kekuatan cadangan itu salah satunya adalah kocok ulang kabinet.

Sementara itu, pengamat politik dan pemerintahan Unhas, Sukri menilai mengganti menteri atau reshuffle kabinet tentu tak mudah. Bila isunya berembus berarti sudah ada evaluasi panjang yang dilakukan. Apalagi kondisi krisis akibat pandemi ini memang dibutuhkan figur yang bisa kerja cepat dan luar biasa.

"Tuntutan Jokowi kan begitu. Saat kondisi sulit begini, kok kinerjanya biasa- biasa saja. Itu pesan keresahannya," tuturnya.
Pernyataan Jokowi ini bisa juga berarti peringatan bagi menteri yang berkinerja buruk. Juga sinyal bagi parpol pendukung untuk segera menyiapkan kader terbaiknya.

Bisa mengganti menteri asal parpol lain atau mengganti menteri jatahnya dengan kadernya yang lain. "Jadi memang ada tuntutan lebih keras. Apalagi Jokowi menyebut rela tidak populis karena sudah di periode keduanya menjabat," bebernya.

Wakil Dekan I FISIP Unhas ini menuturkan persoalan pandemi ini memang berefek besar ke berbagai sektor. Ada kesehatan, ekonomi, perdagangan, perindustrian, sosial, tenaga kerja dan sebagainya. Menteri-menteri di sektor ini yang peluangnya besar untuk dievaluasi.

"Jadi warning. Kondisi ini akan makin buruk bila tak segera ditangani. Untuk mempercepat kinerja, saya kira sah-sah saja. Terkait tepat atau tidak, bergantung figur. Jokowi tentu bertaruh di sini," jelasnya.

Ditambahkan, Pengamat politik, Andi Ali Armunanto, sejak awal tahun, kabinet Indonesia Maju ini bisa dibilang berkinerja buruk atau rapornya merah. Hal itu bila dibanding periode pertama. Di mana ada perlambatan kinerja kabinet.

"Mungkin juga karena kabinet jilid II ini lebih bernuansa kompromi politik. Ini diperparah dengan adanya pandemi covid-19," ungkapnya kepada FAJAR, Senin, 29 Juni.
Menurutnya, ada beberapa sektor yang kinerjanya cukup buruk. Seperti bidang kesehatan, sektor perekonomian, pengangguran meningkat hingga bidang sosial. Ada banyak problem yang muncul padahal di saat pandemi ini butuh kinerja tinggi.

"Penyaluran bansos kacau karena data penerima tidak sinkron. Belum lagi pelandaian kurva covid-19 belum terlihat. Gugus tugas tidak terkordinasi baik dari pusat ke daerah dan sebagainya," bebernya.

Efek domino pandemi covid-19 seperti ke sektor ekonomi makin memperburuk kondisi. Sehingga isu reshuffle kabinet ini makin berhembus kuat. Bila dievaluasi memang sangat buruk tiga bulan terakhir.

"Pergantian kabinet memang tuntutan dan sesuai persepsi publik. Pandemi ini bukan untuk main-main. Harus segera dituntaskan," bebernya.

Penanganan pandemi ini butuh kerja cepat. Indonesia sangat tertinggal bahkan dibanding negara di Asia Tenggara terkait pengendalian covid-19. Malaysia, Singapura dan negara lain relatif cukup baik menangani krisis ini.

"Jika reshuffle dilakukan saat ini, sudah tepat. Akan mengembalikan kepercayaan publik terhadap Jokowi bila penggantian menterinya tepat," tuturnya.

SYL Dinilai Aman

Ali Armunanto menuturkan saat ini sektor pangan relatif masih aman sehingga posisi Mentan Syahrul Yasin Limpo dinilai tak terganggu. Kata dia, daya beli justru yang lemah. Stok pangan dan harga barang-barang masih aman.

"Pak Syahrul saya kira kerjanya masih cukup baik. Tidak ada gejolak besar di sektor pangan. Justru bahan pangan ada, uang untuk membelinya yang sudah kurang karena ekonomi sulit," bebernya. Sukri juga menyampaikan hal senada.

Sektor pangan sedikit tertolong karena minim gejolak inflasi. Selain itu, stok pangan juga cukup tersedia karena daya beli masyarakat menurun. Suplai beras, daging dan komoditas lain belum jadi keluhan masyarakat.

"Tingkat konsumsi seperti saat Ramadan dan Idulfitri biasanya meningkat namun tahun ini situasi berbeda. Jadi ya sektor pangan yang jadi tugas pak Syahrul relatif ya tidak persoalan berarti," tandasnya.(jpg-fin/*)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan