Kata Pengamat, Kemarahan Jokowi akibat Salah Menempatkan Menteri

SOROTI KINERJA MENTERI: Jokowi menyampaikan arahan kepada para menteri dan kepala lembaga saat sidang kabinet paripurna pada 18 Juni lalu. (YOUTUBE SEKRETARIAT PRESIDEN)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago, mengaku sudah mengingatkan Presiden Jokowi sebelum membentuk Kabinet Indonesia Maju.

Presiden Jokowi diingatkan agar tidak salah memilih menteri. “Jangan sampai nanti karena salah memilih menteri, Jokowi disibukkan dengan reshuffle berkali-kali,” kata Pangi, Rabu (1/7).

Menurut Pangi, gonta-ganti menteri berkali-kali dapat memperlambat akselarasi kerja kementerian itu sendiri. Sebab, ujar dia, menteri baru harus beradaptasi kembali dan mulai dari nol lagi.

“Hal tersebut sekarang mulai terungkap dan terkonfirmasi, banyak menteri yang nampaknya tidak mampu mengimbangi ritme kerja presiden,” jelasnya.

Analis politik yang karib disapa Ipang itu menyatakan bahwa letupan-letupan yang menjadi indikator reshuffle kabinet adalah letupan politik, bukan kinerja.

Sehingga, lanjutnya, mau dua sampai sepuluh kali reshuffle pun tidak akan punya korelasi linear terhadap kinerja pemerintah, selama perombakan kabinet hanya berbasiskan letupan politik semata.

Ipang menjelaskan apabila intervensi partai politik dalam penyusunan kabinet dan reshuffle cukup tinggi, maka ini akan mereduksi kekuasaan presiden yang memiliki hak prerogatif.

“Saya pikir ini yang terjadi. Jadi kemarahan Jokowi kemarin hanya bagian dari kausalitas akibat presiden salah menempatkan pembantunya, tidak menjalankan hak prerogatif secara maksimal. Belum lagi tidak menempatkan menteri berdasarkan basis the right man on the right place, sesuai kapasitas keahliannya,” paparnya.

Komentar

Loading...