Sepakat Lawan AS, Iran dan Suriah Perkuat Pertahanan Udara

Rudal terbaru Angkatan Laut Iran-- iranian

FAJAR.CO.ID, TEHERAN — Menteri Pertahanan Suriah dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, menandatangani perjanjian untuk memperluas kerja sama militer.

Perjanjian yang ditandatangani Menteri Pertahanan Suriah Jenderal Ali Abdullah Ayyoub dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran Mayjen Mohammad Baqeri pada hari Rabu, menekankan perluasan kerja sama militer dan keamanan di bidang angkatan bersenjata dan kelanjutan koordinasi.

Dalam pembicaraan itu, kedua belah pihak membahas situasi di Suriah dan perlunya penarikan pasukan asing yang telah memasuki negara itu secara ilegal.

“Jika pemerintah AS mampu membawa Iran, Suriah, dan poros perlawanan bertekuk lutut, itu tidak akan ditunda sesaat,” kata Ali Ayyoub dilansir iranpress, Kamis, 9 Juli.

Mengacu pada Undang-Undang Caesar, yang merupakan serangkaian sanksi AS terhadap Suriah, ia berkata, “Undang-undang Caesar memerangi rakyat Suriah dalam menyediakan makanan, dan obat-obatan. Kami berusaha untuk berurusan dengan konsekuensi dari tindakan ini,” tandas Ali Ayyoub.

“Israel adalah mitra kuat dalam perang melawan Suriah,” katanya. “Kelompok-kelompok teroris adalah bagian dari agresi Israel.”

Mayjen Baqeri menambahkan, “Kami akan memperkuat sistem pertahanan udara Suriah untuk memperkuat kerja sama militer antara kedua negara,” sebutnya.

“Turki sedikit terlambat dalam mengimplementasikan komitmennya pada pemahaman Astana untuk mengeluarkan kelompok-kelompok teroris dari Suriah.” Mohammad Baqeri menambahkan. “Turki perlu menyadari bahwa solusi untuk masalah keamanannya adalah melalui negosiasi dan pemahaman dengan Suriah, bukan hadir di wilayah Suriah,” tambahnya.

“Orang-orang dan negara-negara di kawasan itu tidak menyambut kehadiran Amerika Serikat. Perjanjian yang ditandatangani meningkatkan keinginan kita untuk bekerja sama untuk melawan tekanan AS,” pungkasnya.

Sebelumnya pada KTT tripartit ke-6 Proses Perdamaian Astana pada 1 Juli 2020, dengan partisipasi Presiden Republik Islam Iran, Federasi Rusia, dan Republik Turki, Presiden Iran Hassan Rouhani mengutuk segala sanksi terhadap negara mana pun di dunia, terutama Suriah. Dia menegaskan, Iran akan terus mendukung pemerintah Suriah dan orang-orang dengan kekuatan yang lebih besar. (fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah umar


Comment

Loading...