Dilarang Kemenkes, Pemkot Ngotot Gunakan Rapid Sebagai Diagnosa Awal Covid-19

Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar tetap akan menggunakan rapid test sebagai diagnosa Covid-19. Meskipun hal tersebut telah dilarang oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat Surat Edaran terbarunya.

“Penggunaan Rapid Test tidak digunakan untuk diagnostik,” demikian tertuang pada halaman 82 peraturan Menkes tersebut.

Pj Wali Kota Makassar, Rudy Djamaluddin, menilai, Rapid Test tetap bisa digunakan sebagai diagnosa awal covid-19. Sebelum dilanjutkan dengan test swab atau polymerase chain reaction (PCR).

“Jadi kalau saya ingin katakan begini, jadi apakah rapid test atau pcr, itu sebenarnya bagian dari diagnosa. Hanya mungkin saja keputusan Menkes berpikir supaya tidak ada kebingungan apa yang harus diikuti di dalam mengambil keputusan apakah Covid atau tidak,” jelas Rudy, Rabu (15/7/2020).

Menurut Rudy, kedua alat tersebut, baik rapid maupun PCR bisa digunakan sebagai diagnosa covid. “Tetapi dua dua menurut saya digunakan sebagai alat diagnosa, apapun hasilnya. Karena rapid sudah diakui bahwa orang yang rapid ada yang reaktif ada juga yang (ternyata) positif covid,” imbuhnya.

Bahkan, kata Rudy, mengukur suhu tubuh yang selama ini dilakukan bisa dijadikan sebagai diagnosa awal covid. Jika suhu di atas 37,5 maka dilanjut ke rapid atau tes pcr/swab.

“Kalau kita berada di kondisi begini. Semua alat bisa digunakan sebagai diagnosa, bahkan mengukur suhu itu sudah diagnosa,” tuturnya.

Komentar

Loading...