Kampung Persembunyian Pribumi dari Penjajah Itu Diabaikan Pemda

Suasana jalan Dusun yang makin parah.

FAJAR.CO.ID, GOWA — Suasana di sebuah kampung yang terletak diDusun Malenteng sangatlah nyaman. Hamparan sawah nan luas dan berpetak-petak memanjakan mata.

Dusun itu masuk dalam wilayah Desa Erelembang, Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Wilayah terpencil ini jauh dari perhatian pemerintah setempat.

Jarak dusun tersebut sekitar 93 kilometer dari Kota Makassar. Sejumlah awak media yang hendak ke sana harus menempuh perjalanan hingga enam jam.

Jalanan yang berlubang, menurun, menanjak, bahkan berputar-putar menjadi medan yang menemani selama di perjalanan.

Menuju dan dari lokasi mesti melewati hutan belantara yang sangat lebat dan gelap, bahkan mencekam jika hari sudah malam. Suasana mistis seakan-akan terasa jika melewati hutan tersebut seorang diri.

Kepala Dusun Malenteng, Andi Anjas Tamara, membenarkan sulitnya medan selama di perjalanan menuju tanah kelahirannya itu.

Bahkan, Anjas menyebut, dusunnya itu sebagai tempat persembunyian para kaum pribumi dari siksaan dan pembantaian oleh para penjajah.

“Itu memang dari nenek moyang kami. Waktu masih zaman penjajahan, orang-orang sembunyi di sini dari penjajah. Akhirnya terbentuklah perkampungan ini,” kata Anjas kepada Fajar.co.id, Selasa (14/7/2020).

Alumnus Universitas Negeri Makassar (UNM) ini menganggap wajar, siapa saja yang hendak ke sini akan merasa lelah. Apalagi mengendarai sepeda motor bagi pendatang.

Apalagi dusun itu berada di tempat yang paling ujung wilayah Kabupaten Gowa. Pegunungan yang menjulang tinggi pun menjadi pertanda batas antara Gowa dengan kabupaten lainnya.

Komentar

Loading...