Pembunuh Janda Ni Putu Sekar Masih Misterius, Ini Temuan Polisi

Kamis, 16 Juli 2020 11:23

Anggota Unit Reskrim Polsek Kubutambahan dan Tim Inafis Polres Buleleng saat kembali melakukan olah TKP pada toko milik korban. Foto: Juliadi/Radar Bali

FAJAR.CO.ID, BULELENG – Kematian seorang janda bernama Ni Putu Sekar, 50, warga Dusun Dauh Pura, Desa Depeha, Kubutambahan, Buleleng, Bali masih menjadi misteri.

Aparat kepolisian Polsek Kubutambahan berupaya membongkar kasus pencurian dengan kekerasan ini. Bukti-bukti baru berusaha dikumpulkan penyidik dengan melakukan olah TKP ulang kemarin.

Hampir tiga jam lebih aparat Unit Reskrim dan tim Inafis Polres Buleleng memeriksa area toko sembako milik korban.

Setiap sudut ruangan tak luput dari pemeriksaan polisi. Saat olah TKP, kondisi warung milik korban masih berantakan. Tampak pula bekas ceceran darah korban di lantai toko yang mulai mengering.

Polisi juga mengambil gambar pada area toko milik korban. Selain itu pemeriksaan oleh polisi juga dilakukan pada bangunan toko belakang korban untuk mencari barang bukti lain.

Kapolsek Kubutambahan AKP Made Mustiada menjelaskan, jenazah korban sudah berada di ruang jenazah RSUD Buleleng dan telah dilakukan autopsi, Selasa (14/7) dini hari.

Hanya AKP Mustiada mengaku belum menerima hasil autopsi. Untuk bagian tubuh korban yang mengalami luka, yakni luka di belakang kepala korban. Apakah luka itu akibat benda tumpul atau benda tajam, masih menunggu hasil autopsi.

“Kami belum bisa memastikan masih menunggu hasil otopsi dulu,” ujar AKP Mustiada.

Terkait barang-barang yang hilang, AKP Mustiada menuturkan, berdasar keterangan kakak korban, Desak Made Liarni, hanya tas gandek dan kalung beserta liontin yang kerap dipakai korban.

Sedangkan barang berharga seperti sertifikat tanah, perhiasan di kamar korban masih ada. “Jadi, kalung yang dipakai korban dan tas gandek saja yang hilang,” tegasnya.

Terkait siapa pelaku pembunuhan korban, AKP Mustiada belum bisa memastikan. Pihaknya masih perlu mengumpulkan bukti dulu sebelum menguak pelaku pembunuhan.

“Baru dua saksi yang kami periksa yakni kakak korban Desak Made Liarni dan adik korban Dewa Made Suweca,” ucapnya.

Ditegaskan AKP Mustiada, kasus yang menimpa korban bukan perampokan. Kasusnya lebih mengarah kepada aksi tindakan pencurian dengan kekerasan. ”Saya pertegas, ini bukan perampokan. Tapi kasus pencurian dengan kekerasan,” jelas AKP Mustiada.

Dia melanjutkan, pada toko milik korban tak ada kamera CCTV. Pihaknya juga sudah meminta agar masyarakat yang berjualan di desa untuk melengkapi tokonya dengan kamera pengawas CCTV.

Sehingga setiap kali ada kejahatan memudahkan aparat kepolisian dalam melacak pelaku.

“Adanya aksi ini kami minta bagi masyarakat yang berjualan jangan sendirian. Minimal di toko lebih dari satu orang. Yang penting toko juga dilengkapi kamera CCTV,” tandasnya. (rb/jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
9
5
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar