Vonis Rendah Penyerang Novel Baswedan, Amnesty: Seperti Sandiwara

Novel Baswedan.

FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Amnesty International Indonesia menyampaikan, meski vonis terhadap pelaku penyerangan Novel Baswedan lebih berat, namun tetap gagal meyakinkan masyarakat. Bahkan, proses penyidikan hingga persidangan dinilai rekayasa.

Diketahui, dua terdakwa penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis, masing-masing dihukum dua tahun penjara dan satu tahun enam bulan penjara. Vonis keduanya lebih berat dari tuntutan satu tahun penjara jaksa penuntut umum (JPU).

“Dari awal, kami melihat banyak kejanggalan selama proses penyelidikan hingga persidangan. Semua seperti sengaja direkayasa. Seperti sandiwara, dengan mutu yang rendah,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid dalam keterangannya, Jumat (17/7).

Usman menuturkan, kejanggalan terlihat dari proses hukum di kepolisian yang lamban, tertutup, dan terkesan main-main. Menurutnya, Komnas HAM telah menemukan terjadinya abuse of process yang mengarah pada upaya menutupi kasus ini.

Ironinya, lanjut Usman, proses penyidikan baru gabungan yang diklaim merujuk saran Komnas HAM juga sama buruknya. Unsur-unsur non-polisi kehilangan objektivitas karena kedekatan mereka dengan pimpinan polisi.

“Ketimbang mendengar suara korban, Novel, yang sudah mengatakan ada indikasi serangan itu didalangi perwira tinggi polisi, mereka sinis pada korban dan menghasilkan mutu laporan di bawah standar pencarian fakta,” pungkasnya.

Majelis hakim telah memvonis pelaku penyerangan Novel pada Kamis (16/7) kemarin. Perbuatan kedua terdakwa menyebabkan mata Novel Baswedan mengalami luka berat. Sehingga kornea mata kanan dan kiri berpotensi menyebabkan kebutaan.

Komentar

Loading...