Pemodal Besar Main di Pilwakot, PDIP Sahkan Dilan, Appi Kerja Keras

Sabtu, 18 Juli 2020 13:31

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Pemilihan Wali Kota Makassar selalu menjadi daya tarik. Bukan hanya politikus. Juga, pemilik modal.

DPP PDI Perjuangan mengumumkan paket usungan di 45 daerah untuk pilkada serentak 2020. Khusus Sulsel baru kebagian tiga daerah.

Masing-masing rekomendasi untuk pasangan Adnan Purichta – Abdul Rauf Malaganni di Kabupaten Gowa. Lalu, Kabupaten Pangkep, Rahman Assagaf-Muammar Muhayang. Dan, Syamsu Rizal-Fadli Ananda di Pilkada Makassar.

Bakal calon Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal alias Deng Ical bersyukur dengan sikap PDI Perjuangan yang akhirnya resmi mengusung.

“Insyaallah amanah ini akan kami jalankan dengan baik. Sebagaimana pesan Ketua Umum PDI Perjuangan. Pastinya dengan memperhatikan apa yang jadi garis perjuangan partai,” ungkapnya.

Mengenai kapan partai pendukung lainnya ikut mengeluarkan rekomendasi resmi, Wakil Wali Kota Makassar 2013-2018 itu memilih bungkam.

“Saya tidak ingin komentar partai lain, sebelum partai lain mengumumkan,” jelasnya.

Sementara itu, terbitnya rekomendasi untuk pasangan Syamsu Rizal dan Fadli Ananda di Pilwalkot Makassar, dinilai Pengamat politik Unhas, Andi Ali Armunanto akan menjadi kekuatan besar bagi pasangan yang akrab disebut Dilan itu.

“Dukungan PDIP ini juga bisa dibaca sebagai masuknya gerbong pemodal besar. Kita tahu ada nama-nama di balik PDIP yang dianggap sebagai sponsor sama ketika dahulu pemilihan gubernur,” tegasnya tanpa merinci lebih jauh pemodal itu.

Sejauh ini, Syamsu Rizal (Deng Ical) telah mengantongi rekomendasi dukungan dari dua partai yakni PKS (5 kursi), dan PKB (1 kursi). Resminya bergabung PDIP dengan modal 6 kursi membuat dukungan 12 kursi ini sebagai modal besar.

“Modal popularitas, dan jaringan politik Deng Ical kini sangat layak diperhitungkan,” bebernya.

Terpisah, Pengamat Politik Unismuh, Andi Luhur Prianto menilai pastinya PDIP punya pertimbangan kuat untuk menjatuhkan pilihan ke Syamsu Rizal (Deng Ical). Apalagi Deng Ical menggandeng kader PDIP, Fadli Ananda.

Menurutnya pasca dukungan resmi PDIP, posisi PKS yang selama ini berada di barisan awal pendukung Deng Ical yang harus segera dikunci. Jika sekadar rekomendasi peluang untuk berubah sangat mungkin terbuka untuk berubah.

“Dalam banyak hal isu pengalihan dukungan akan menjadi semakin kencang, meski dukungan PDIP ini sangat strategis dan akan membantu agar syarat dukungan terpenuhi,” bebernya.

Sejauh ini, partai besar tersisa praktis hanya PPP dengan lima kursi dan Hanura yang kebagian tiga kursi di DPRD Makassar. Ali Armunanto menyatakan susah untuk membentuk poros baru sehingga akan memilih bergabung di antara empat kandidat saat ini.

“PPP punya sejarah kedakatan dengan Appi dan Aksa Mahmud, tetapi tentu kandidat lain akan mengincar juga. Hanura belum bisa terbaca akan kemana,” bebernya.

Appi diakuinya, merupakan kandidat yang belum aman. Mendekati Demokrat tentu belum cukup, tetapi harus ikut mengamankan dukungan PPP.

”Kalau misalnya PPP gabung dengan kandidat lain (bukan Appi), maka Appi bisa jadi sulit untuk mengamankan syarat dukungan, sebab tersisa partai-partai kecil,” bebernya.

Hal sama diutarakan Luhur Prianto. Menurutnya, Hanura sulit ditebak. “Di antara banyak partai, saya sulit melihat bagaimana sebenarnya arah dukungan Hanura,” jelasnya.

“Tentu berprogres, tetapi harus segera ada partai yang bisa diamankan Appi mampu menarik partai lain yang belum menentukan sikap,” bebernya.(fik-abd-rud/abg/fajar)

Bagikan berita ini:
3
8
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar