Korban Banjir Terpaksa Jebol Dinding Rumah, Cari Ijazah dan Perabot Tersisa

Daerah Terisolasi Pendistribusian logistik ke daerah terisolasi di Desa Maipi dilalui dengan cara menyeberangi sungai, Sabtu, 18 Juli. Warga pun bahu membahu mengangkat sepeda motor hingga kebutuhan untuk pengungsi. IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Seminggu lebih pasca banjir bandang melanda Luwu Utara. Warga korban banjir mulai kembali ke rumah. Seperti di Radda. Tetapi, banyak warga tidak bisa lagi masuk melalui pintu. Caranya menjebol dinding rumah.

Barang-barang berharga lebih dahulu dicari. Salah satunya ijazah dan dokumen lainnya yang masih utuh. Kemudian, barang lainnya seperti perabot rumah tangga dan motor.

Adapun mobil yang tertimbun longsor masih dibiarkan. Jalan nasional di Radda juga sudah tembus. Tetapi, hanya dibuka untuk distribusi bantuan.

Kemarin siang, ditutup lagi. Air masih setinggi lutut orang dewasa. Mobil truk masih mondar mandir mengangkut material lumpur. Alat berat masih membersihkan lumpur di jalan nasional setinggi satu meter.

Jalan menuju Desa Meli juga mulai dibersihkan menggunakan eskavator. Agar memudahkan pencarian korban hilang. “Hanya ini yang bisa kami selamatkan,” kata Lina, salah satu korban banjir kepada FAJAR, Minggu (19/7/2020).

Korban banjir yang juga Kabag Administrasi Pembangunan Pemkab Luwu Utara, Halid Harbi hanya bisa pasrah melihat rumahnya tertimbun lumpur sekira semeter.

Mobil warna hitamnya juga tertimbun lumpur. “Saya pusing lihat lumpur mulai dari halaman sampai dalam rumah,” katanya.

Sementara itu, kesulitan air bersih di pengungsian masih dicarikan solusi. Polres Luwu Utara membangun satu unit sumur bor. Sumur bor ini berada di Posko Induk TNI dan Polri, Panampung.

Komentar

Loading...