Polda Usut Dugaan Kerusakan Hutan di Lutra, Penyebab Banjir Bandang

Daerah Terisolasi Pendistribusian logistik ke daerah terisolasi di Desa Maipi dilalui dengan cara menyeberangi sungai, Sabtu, 18 Juli. Warga pun bahu membahu mengangkat sepeda motor hingga kebutuhan untuk pengungsi. (IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS)

Baca Juga: Sanitasi dan Air Bersih Masih Menjadi Kendala

“Saat itu kayu gelondongan kelas satu banyak dari atas (Rampi). Tetapi, hanya sebatas di aliran sungai saja. Taman di dekat jembatan hancur. Warga bilang untung kayu kelas satu yang hanyut,” kenangnya. Setelah itu, banjir kembali melanda Masamba. “Minggu malam (12 Juli) baru air. Senin malam (13 Juli) baru ada tanah dan kayu hantam rumah warga,” jelasnya.

Kembali ke Rumah

Pantauan FAJAR, warga korban banjir mulai kembali ke rumah. Seperti di Radda. Tetapi, banyak warga tidak bisa lagi masuk melalui pintu. Caranya menjebol dinding rumah. Barang-barang berharga lebih dahulu dicari. Salah satunya ijazah keluarga. Ijazah dan dokumen lainnya masih utuh. Kemudian, barang lainnya. Perabot rumah tangga. Juga, motor.

Kondisi para pengungsi Lutra, pasca banjir bandang. (Foto: idris/PALOPOPOS)

Adapun mobil yang tertimbun longsor masih dibiarkan. Jalan nasional di Radda juga sudah tembus. Tetapi, hanya dibuka untuk distribusi bantuan. Kemarin siang, ditutup lagi. Air masih setinggi lutut orang dewasa. Mobil truk masih mondar mandir mengangkut material lumpur. Alat berat masih membersihkan lumpur di jalan nasional setinggi satu meter.

Jalan menuju Desa Meli juga mulai dibersihkan menggunakan eskavator. Agar memudahkan pencarian korban hilang. “Hanya ini yang bisa kami selamatkan,” kata Lina.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...