Polda Usut Dugaan Kerusakan Hutan di Lutra, Penyebab Banjir Bandang

Daerah Terisolasi Pendistribusian logistik ke daerah terisolasi di Desa Maipi dilalui dengan cara menyeberangi sungai, Sabtu, 18 Juli. Warga pun bahu membahu mengangkat sepeda motor hingga kebutuhan untuk pengungsi. (IDRIS PRASETIAWAN/PALOPO POS)

Bencana alam di Masamba diduga karena adanya kerusakan hutan. Pembalakan liar massif. Polda Sulsel pun berusaha menyelidiki kerusakan hutan di hulu sungai Masamba dan Rongkong. Apalagi, ada banyak kayu gelondongan saat bajir bandang terjadi.

FAJAR.CO.ID, MASAMBA —Kapolda Sulsel, Irjen Pol Mas Guntur Laupe mengatakan, sembari mengerahkan porsonel dalam pemulihan di lokasi bencana, pihaknya juga melakukan penyelidikan terkait adanya kerusakan hutan di Masamba. Hal ini untuk memastikan apakah ada aktivitas pembalakan liar atau murni bencana alam.

“Baru penyelidikan sambil kumpulkan bukti-bukti. Apakah ada bukti dan saksi dimaksud (adanya pembalakan liar secara massif sehingga terjadi kerusakan hutan),” katanya. Pekan lalu, Kapolda bersama Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, Pangdam XIV Hasanuddin, Mayjen TNI Andi Sumangerukka dan Kajati Sulsel, Firdaus Dewilmas mengunjungi lokasi bencana.

Dampak atas bencana alam tersebut memang sangat besar. Banyak warga yang kehilangan tempat tinggal dan sanak saudaranya. “Kami turut prihatin atas bencana tersebut. Semoga seluruh korban diberikan kekuatan. Semoga Luwu Utara segera pulih. Kami pun sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan kerusakan hutan di Masamba,” ungkapnya.

Jenderal Polisi kelahiran Perepare tersebut mengakui banyak kayu gelondongan yang menghantam rumah-rumah warga. Batang kayu itulah yang memang menarik perhatian. Banyak warga yang mempertanyakan. Termasuk keterangan warga Malangke, Muhammad Fauzan.

“Malangke dan Malangke Barat ini sangat rawan. Apalagi sejak 2008, aliran sungai Rongkong sudah meluap ke Desa Limbung Wara. Bahkan ada satu dusun terisolasi sampai sekarang. Penduduknya sudah meninggalkan desanya,” katanya. Diakuinya, Sungai Masamba mulai meluap saat Ramadan. Tiga bulan lalu.

Baca Juga: Sanitasi dan Air Bersih Masih Menjadi Kendala

“Saat itu kayu gelondongan kelas satu banyak dari atas (Rampi). Tetapi, hanya sebatas di aliran sungai saja. Taman di dekat jembatan hancur. Warga bilang untung kayu kelas satu yang hanyut,” kenangnya. Setelah itu, banjir kembali melanda Masamba. “Minggu malam (12 Juli) baru air. Senin malam (13 Juli) baru ada tanah dan kayu hantam rumah warga,” jelasnya.

Kembali ke Rumah

Pantauan FAJAR, warga korban banjir mulai kembali ke rumah. Seperti di Radda. Tetapi, banyak warga tidak bisa lagi masuk melalui pintu. Caranya menjebol dinding rumah. Barang-barang berharga lebih dahulu dicari. Salah satunya ijazah keluarga. Ijazah dan dokumen lainnya masih utuh. Kemudian, barang lainnya. Perabot rumah tangga. Juga, motor.

Kondisi para pengungsi Lutra, pasca banjir bandang. (Foto: idris/PALOPOPOS)

Adapun mobil yang tertimbun longsor masih dibiarkan. Jalan nasional di Radda juga sudah tembus. Tetapi, hanya dibuka untuk distribusi bantuan. Kemarin siang, ditutup lagi. Air masih setinggi lutut orang dewasa. Mobil truk masih mondar mandir mengangkut material lumpur. Alat berat masih membersihkan lumpur di jalan nasional setinggi satu meter.

Jalan menuju Desa Meli juga mulai dibersihkan menggunakan eskavator. Agar memudahkan pencarian korban hilang. “Hanya ini yang bisa kami selamatkan,” kata Lina.

Korban banjir yang juga Kabag Administrasi Pembangunan Pemkab Luwu Utara, Halid Harbi hanya bisa pasrah melihat rumahnya tertimbun lumpur sekira semeter. Mobil warna hitamnya juga tertimbun lumpur. “Saya pusing lihat lumpur mulai dari halaman sampai dalam rumah,” katanya. (FAJAR)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...