Rindu Sapardi

  • Bagikan

‘Hujan Bulan Juni’  dan  ‘Aku ingin’ adalah dua puisinya yang fenomenal dan kemarin ramai menghiasi jagad medsos minggu kemarin. ‘Aku Ingin’, penuh dengan makna yang kadang dibuat rumit oleh begitu banyak penafsiran. Padahal Sapardi hanya ingin menggunakan kata dan kalimat yang sederhana. Lalu ia menuliskannya: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana//Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu//

*****

Sapardi bukan penyair yang punya impian menjadikan puisi sebagai pendobrak situasi yang tidak benar sebagaimana yang dikatakan JFK. Puisi adalah karya sastra yang menghadirkan hati dan nilai kemanusiaan yang dimiliki dan dirasakan semua orang. Seorang kawan menulisksn, bahwa bagi Sapardi sastra sebagai cerita tentang kondisi manusia sudah merupakan ambisi yang memadai; tak perlu ‘ditingkatkan’ dengan membidik isu-isu sosial yang pasti membuatnya gagal sebagai ilmu sosial dan noscaya lemah sebagai karya sastra. 

Dan mungkin karena tidak memiliki ‘ambisi’ itulah karya Sapardi mungkin akan terus abadi dalam ingatan dan hati semua penikmat puisinya. Minggu siang kemarin, mereka menuliskannya kembali. Mencarinya kembali dan memforwardnya beramai-ramai, untuk siapa saja. 

Namun apapun, meski tidak memiliki ‘ambisi’ apapun, karya Sapardi telah merasuk ke relung hati banyak penggemarnya sejak di usia duapuluhtahunan, enampuluh tahun yang lalu, ia mulai menuliskan puisinya. 

Ia menuliskan bait puisinya; tak ada yang lebih tabah//dari hujan bulan juni//dirahasiakannya rintik rindunya//kepada pohon berbunga itu.  Minggu kemarin, di bulan Juli, Sapardi menyelesaikan rindunya kepada sang penciptaNya. ****

  • Bagikan