Harun Masiku Buron 6 Bulan, ICW Nilai Firli Enggan Memproses Hukum

Harun Masiku

FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah enam bulan lebih belum juga berhasil meringkus tersangka kasus pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024, Harun Masiku. Indonesia Corruption Watch (ICW) meragukan komitmen Ketua KPK Komjen Firli Bahuri yang terlihat tidak serius dan enggan untuk memproses hukum Harun Masiku.

“Sebab, dalam perkara tersebut, tindakan dari Ketua KPK selaku Pimpinan tertinggi lembaga anti rasuah itu kerap kali menuai kontroversi,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana dalam keterangannya, Selasa (21/7).

Kurnia membeberkan, kontroversi tersebut diantaranya, Firli memilih diam terkait adanya dugaan penyekapan saat tim penyidik KPK ingin memburu oknum tertentu di PTIK. Kemudian, diduga Firli juga mengganti tim penyidik yang menangani perkara tersebut.

Tak hanya itu, Firli juga diduga secara sepihak memulangkan paksa penyidik Rossa Purbo Bekti ke instansi asalBahkan, terlihat enggan untuk menggeledah kantor PDIP. “Belakangan juga muncul ide yang ingin mengadili Harun Masiku secara in absentia,” cetus Kurnia.

Sedangkan faktor eksternal, lanjut Kurnia, Harun Masiku diduga dilindungi kelompok tertentu yang memiliki kekuasaan besar serta dapat mengontrol Ketua KPK. Sehingga, upaya untuk menangkap Harun Masiku selalu terganjal.

“Ketidakberdayaan KPK dalam menangkap buronan ini mesti menjadi catatan serius. Sebab, selama ini KPK (di era sebelum kepemimpinan Komjen Firli Bahuri) selalu dikenal sebagai lembaga penegak hukum yang cepat mendeteksi keberadaan buronan dan melakukan penangkapan,” tegas Kurnia.

Sementara itu, pelaksana tugas (Plt) juru bicara KPK, Ali Fikri mengaku pihaknya telah mencegah Harun Masiku untuk tidak bisa bepergian keluar negeri. Namun, jejak kader partai berlogo banteng itu hingga kini belum juga ditemukan.

“Tentunya sudah dilakukan cegah kemudian ke luar negeri pasti ada info. Tapi laporan ke kami enggak ada yang masuk saat ini, kalau memang keluar masuk lalu lintas orang pasti ada,” kata Ali dikonfirmasi, Minggu (19/7).

Juru bicara KPK bidang penindakan ini menuturkan, Harun sempat diisukan telah meninggal dunia. Namun, informasi tersebut belum bisa dibenarkan. “Sampai saat ini KPK tidak bisa mengkonfirmasi hal itu dengan data yang valid, misalnya bahwa yang bersangkutan meninggal dunia,” ujar Ali.

Oleh karena itu, Ali menegaskan lembaga antirasuah terus melakukan pencarian terhadap Harun. Bahkan hingga kini, KPK terus menyelesaikan berkas acara pemeriksaan (BAP) terhadap Harun.

Terlebih sejumlah tersangka dalam perkara suap proses pergantian antarwaktu (PAW) Fraksi PDIP telah menghadapi persidangan seperti Wahyu Setiawan dan Agustiani Tio. Saeful Bahru pun telah menjalani pidana dalam kasus tersebut.

“Bukan berarti kemudian tersangka belum ditemukan kemudian berkasnya berhenti, tidak. Justru terhadap putusan Saeful Bahri yang sudah divonis,” cetus Ali.

Dalam kasus PAW Fraksi PDIP, KPK menetapkan empat orang sebagai tersangka. Mereka yakni Komisioner KPU Wahyu Setiawan, Agustiani Tio Fridelina selaku mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Harun Masiku selaku caleg DPR RI fraksi PDIP dan Saeful.

KPK menduga Wahyu bersama Agustiani Tio Fridelina diduga menerima suap dari Harun dan Saeful. Suap dengan total Rp 900 juta itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR RI menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia pada Maret 2019 lalu.

Tersangka penerima suap Wahyu dan Agustiani tengah menjalani persidangan dalam kasus ini. Sementara itu, Saeful Bahri telah divonis satu tahun dan delapan penjara. Saeful Bahri terbukti bersama-sama Harun Masiku menyuap Wahyu Setiawan melalui mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina. Kini dia telah dijebloskan ke Lapas Sukamiskin untuk menjalani pidana penjara. (JPC)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...