Pilkada Solo Versi Rocky Gerung, Otak Kosong Versus Kotak Kosong

Akademisi Rocky Gerung (Wildan Ibnu Walid/ JawaPos.com)

“Kalau dibandingkan, ya lebih otoriter Jokowi sebenarnya. Dalam sistem demokrasi terang benderang, Jokowi bermain di air keruh, mencari keuntungan dari jabatan politik. Sebut saja lebih totaliter dari sistem Orde Baru,” tambah Rocky.

Rocky Gerung memahami bahwa majunya Gibran ke Pilkada Solo 2020 merupakan hak otonom setiap individu.

Namun menurutnya, hak tersebut berlaku jika seseorang benar-benar tidak memiliki hubungan atau pengaruh dengan pihak lain di perpolitikan, terlebih orang nomor satu di Indonesia.

“Tentu orang bisa bilang ya itu otonom untuk mencalonkan atau tidak mencalonkan,” kata Rocky Gerung.

“Dia menjadi otonom kalau tidak di dalam spire of influence dari ayahnya yang adalah presiden,” jelasnya.

Rocky menyarankan Jokowi langsung saja melantik Gibran lewat Peppres ketimbang bertarung lewat Pilkada.

Rocky Gerung menegaskan Gibran tidak akan kalah melawan kotak kosong, seperti yang terjadi di Makassar Sulawesi Selatan.

“Politik Solo akan berupaya untuk menghindari itu. Artinya kemungkinan untuk dikalahkan kotak kosong akan tertutup. Jadi akan dicari cara supaya kotak kosong juga dikalahkan,” katanya.

“Jadi meme sekarang kalau kotak kosong yang kalah di Solo yang menang apa? otak kosong? Jadi otak kosong versus kotak kosong,” tandas Rocky Gerung. (one/pojoksatu/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...