Emil Salim: Kesejahteraan Petani Kunci Kedaulatan Pangan


FAJAR.CO.ID,YOGYAKARTA– Rembug Nasional Majelis Hukum dan HAM (MHH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan Emil Salim, ahli ekonomi dan Menteri Negara Pengawasan Pembangunan Lingkungan Hidup Indonesia tahun 1978-1993 serta guru besar emeritus Universitas Indonesia.

Dalam pemaparannya, Emil mengatakan tren kebijakan ekonomi dan lingkungan di Indonesia bersifat paradoks. Potensi besar Indonesia mandiri secara pangan berbenturan dengan kebijakan impor pangan dan kurangnya dorongan untuk swasembada pangan. Selain itu, angka penderita gizi buruk dan malnutrisi sangat tinggi.

Emil menambahkan bahwa ketersediaan pangan di Indonesia sangat tergantung dengan impor luar negeri dan rendahnya kesejahteraan petani. Menurut Emil, Indonesia merupakan negara tersubur kedua di dunia setelah Brazil.

“Maka ada hal yang aneh, kita berlimpah kekayaan alam. Cukup untuk kekayaan pangan, tapi dalam konsensi pangan, kita menjadi negara yang berkekurangan dan menderita. Lebih mengherankan lagi kita tergolong negara yang mengalami swasembada beras hanya sekali pada 1984. Beras, gandum, jagung, kedelai, ubi, bawang putih, kacang tanah, gula, semua kita impor. 21,9 juta ton di 2014 menjadi 27,6 ton 2018,” papar Emil dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7/2020).

Emil mengatakan bahwa problem utama yang saat ini dihadapi Indonesia adalah kapasitas birokrasi mengelola sumber daya alam. Emil mempertanyakan besarnya porsi kebijakan sektor ekstraktif daripada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Padahal, ketiga sektor yang disebut terakhir itu justru menyumbang PDB pada kuartal pertama nyaris tiga belas persen dibandingkan sektor pertambangan ekstraktif yang hanya mampu menyentuh angka enam persen.

Komentar

Loading...