Hari Anak Nasional, Kekerasan Seksual di Sulsel Justru Meningkat 30 Persen

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Indonesia saat ini tengah memperingati Hari Anak Nasional (HAN), tepatnya setiap tanggal 23 Juli.

Namun, perayaan HAN tahun ini, berbeda dengan tahun sebelumnya. Pasalnya wabah Covid-19 mengharuskan anak-anak beraktivitas di rumah.

Kendati mengerjakan segala hal dari rumah, Kepala UPT P2TP2A Sulawesi Selatan, Meisy Papayungan, mengatakan, tingkat kekerasan seksual pada anak justru mengalami peningkatan hingga 30 persen dari tahun sebelumnya.

“Yang membuat kita miris, terjadi peningkatan kekerasan seksual pada anak dan itu kejadiannya di luar rumah, misalnya ada di rumah tetangga. Kami juga bingung, harusnya anak-anak tidak sekolah, tidak keluar rumah tapi tetap saja ada kejadian,” ucapnya kepada fajar.co.id saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2020).

Ia menuturkan, tingkat kekerasan seksual pada anak khususnya anak perempuan, terjadi karena kurangnya penjagaan orang tua serta dampak lingkungan.

“Ternyata dari kejadian ini, sebagian anak-anak tidak terkontrol dan mereka keluar. Termasuk anak-anak perempuan yang kasusnya ditemukan di tempat karaoke, indekos. Artinya ada hal yang tidak berjalan sesuai dengan aturannya,” beber Meisy.

Tidak hanya terjadi di luar rumah, Meisy mengaku, berdasarkan data DPPPA Sulsel, kasus kekerasan seksual pada anak juga terjadi di dalam rumah.

“Ada juga di rumah tapi pelakunya adalah ayahnya, ayah tirinya, pamannya. Termasuk kasus di Pinrang yang dinikahkan dengan tunanetra. Jika dirunut kasusnya, ayahnya pernah melakukan kekerasan seksual makanya takut mungkin terjadi apa-apa sehingga dinikahkan dengan disabilitas,” jelasnya.

Komentar

Loading...