Kemendikbud Didesak Segera Evaluasi Keterlibatan Lembaga CSR dalam POP


FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Ikatan Guru Indonesia (IGI) sepakat dengan tuntutan banyak pihak terkait keterlibatan lembaga-lembaga CSR dalam Program Organisasi Penggerak (POP) Kemendikbud.

Ketua Umum Non Aktif IGI, Ramli Rahim mengatakan evaluasi ini terkait penggunaan anggaran negara oleh lembaga tersebut apalagi mereka sudah ditetapkan status dan besaran bantuannya meskipun belakangan muncul informasi bahwa akan ada patungan atau bahkan lembaga CSR melakukannya dengan mandiri.

“Terkait anggaran ini perlu diperjelas sejelas-jelasnya apalagi banyak yang mengaitkan personal dirjen GTK dengan lembaga tersebut,” katanya melalui keterangan resmi yang diterima fajar.co.id, Kamis (23/7/2020).

Selain persoalan anggaran, juga terkait evaluasi kesuksesan program ini kedepannya, jangan sampai sukses lembaga-lembaga tersebut hanya menjadi klaim kemdikbud padahal kemendikbud sama sekali tak melakukan apapun terhadap lembaga tersebut.

“Jika memang ingin melibatkan Sampoerna Foundation dan Bakti Tanoto, mestinya kemendikbud sejak awal mengkomunikasi hal tersebut bukan hanya kepada dua lembaga itu. Tetapi kepada semua lembaga CSR yang pernah atau masih berperan dalam peningkatan kualitas pendidikan,” jelasnya.

Meskipun demikian PP IGI sudah memutuskan untuk tetap akan mendukung kemendikbud dalam menjalankan program ini mengingat cita-cita awal IGI yang memang berkeinginan meningkatkan kompetensi guru Indonesia.

“IGI ingin terlibat mencari solusi dan menemukan masalah dari program ini dengan terlibat didalamnya secara langsung karena selama ini IGI berada diluar pemerintah dan dalam 3 tahun pertama sukses melatih 1,5 juta guru meskipun tanpa bantuan Kemdikbud,” ungkapnya.

Komentar

Loading...