Adaptasi Ekosistem Digital Sudah Mendesak

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Ekonomi dunia memang lagi terpuruk akibat pandemi Covid-19. Namun keterpurukan itu tidak memengaruhi produk- produk yang menggandeng teknologi. Mereka malah meraup untung berpuluh bahkan beratus kali lipat.

Sayangnya secara kuantitas maupun kualitas, generasi pekerja di Indonesia yang mampu beradaptasi dengan ekosistem digital, terutama teknologi informasi, masih jauh tertinggal dibandingkan negara Asean lainnya. Dari ratusan juta tenaga kerja di Indonesia, sangat sedikit yang benar-benar mampu menggandeng teknologi pada produknya. Selebihnya masih berkutat pada pekerjaan konvensional.

Pakar strategi digital, Achmad Sugiarto menegaskan, hal inilah yang seharusnya mendorong adaptasi ekosistem digital lebih dipercepat. "Sekarang ini adaptasi ke ekosistem digital sudah mendesak. Era ketergantungan manusia kepada teknologi akan sangat lama. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, akan menjadi bahaya. Apalagi ini membiasakan orang dari konvensional ke digital bukan pekerjaan mudah," kata Direktur Strategi Portfolio PT Telkom Tbk (2019-2020) ini, usai menjadi narasumber acara webinar, Jumat malam, 24 Juli.

Anto, sapaan akrabnya, menekankan adaptasi ekosistem digital musti dimulai dari jenjang pendidikan formal maupun informal. Apalagi di masa kenormalan baru ini, industri-industri akan lebih mengutamakan pekerja yang punya keterampilan teknologi. Karenanya, menjadi sangat penting mendidik generasi muda agar punya inovasi teknologi yang membantu industri.

Dia pun mengingatkan banyaknya industri konvensional yang tumbang gegara tidak punya inovasi teknologi. Sebaliknya, industri yang menggandeng teknologi justru tetap berjalan baik bahkan meraih untung. Dia menyebut layanan kesehatan digital, teknologi finansial (fintech), logistik, pendidikan, e-commerce serta digital enabler, menjadi contoh industri bermuatan teknologi mampu melawan krisis ekonomi akibat Covid-" Yakin saja, jika kita mulai mulai dari inkubasi ide, itu akan perlahan mengarah kepada akselerasi inovasi, mendapat funding venture capital danujung-ujungnya didorong menjadi IPO. Namun saya perlu tekankan, kultur adalah kuncinya. Jadi harus dibiasakan sejak dini agar kelak nanti sudah mampu menciptakan ide-ide brilian," tutupnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...