Novel Ragukan Dua Pelaku Penyerang Dirinya Dipecat dari Kepolisian

TIDAK BANDING: Dua terdakwa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan saat menjalani sidang di PN Jakarta Utara, Kamis (16/7). (FEDRIK TARIGAN/JAWA POS)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan meragukan kedua terdakwa penyerangan terhadapnya, Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis dipecat dari institusi Polri. Hal ini menyusul akan digelarnya sidang etik untuk kedua pelaku penyerangan.

“Kalau sesuai dengan apa yang saya dapat info dan telah saya sampaikan ke publik sejak awal, bahwa kedua orang tersebut tidak akan dipecat dari kepolisian. Akankah semau skenario yang saya dapatkan sejak awal berjalan demikian semuanya, atau memang sudah mulai ada niatan kebaikan,” kata Novel kepada JawaPos.com, Rabu (29/7).

Korban kasus penyiraman air keras ini menyebut, sejak awal sudah mengetahui kalau kedua pelaku tidak akan lebih dihukum dari dua tahun penjara. Karena, motif penyerangan hanya alasan pribadi yang tidak menyukai Novel lantaran dinilai telah berkhianat kepada institusi Polri.

“Info yang saya dapat sejak awal, bahwa kedua pelaku hanya akan dihukum tidak lebih dari dua tahun. (Motif) alasan pribadi dan pelaku hanya dua orang saja, serta kedua pelaku tidak akan dipecat,” cetus Novel.

Novel memandang, proses hukum penyerangan terhadapnya diduga berjalan sesuai skenario. Dia pun meragukan kalau Rahmat Kadir yang telah divonis dua tahun penjara dan Ronny Bugis yang divonis satu tahun enam bulan tidak akan dipecat dari institusinya.

“Semua cerita tersebut telah terjadi sesuai skenario, tinggal masalah dipecat atau tidaknya,” tandasnya.

Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri akan segera menggelar sidang etik untuk Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Keduanya pun telah divonis oleh PN Jakarta Utara terkait penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Awi Setiyono mengatakan, sidang etik itu akan dilakukan setelah ada keputusan hakim pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap atau inkrah.

“Yang jelas itu betul larinya ke kode etik. Kalau orang sudah inkracht, terbukti melakukan pidana tentunya larinya ke (pelanggaran) kode etik,” kata Awi, di Mabes Polri, Selasa (28/7).

Kendati demikian, Awi tak menjelaskan secara rinci soal waktu persidangan etik terhadap dua terpidana itu. Namun, Awi menyebut persidangan kode etik itu mengenai statusnya sebagai anggota Polri.

“Itu berproses terkait dengan statusnya tentunya nanti ada proses sendiri karena memang bagaimana proses penghentian anggota polri dari kepolisian negara RI, itu ada aturan mainnya,” ujar Awi.

Terpisah, Humas Pengadilan Negeri Jakarta Utara Djuyamto menyatakan, putusan perkara kasus penyiraman air keras telah berkekuatan hukum tetap alias inkrah sejak Kamis 23 Juli 2020.Sebab, jaksa penuntut umum (JPU) maupun pelaku tidak mengajukan banding.

“Karena per tanggal 23 Juli kemarin sampai pukul 24.00 WIB JPU tidak mengajukan pernyataan banding, maka putusan telah inkrah,” ucap Djuyamto.

Untuk diketahui, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis merupakan anggota Polri aktif. Keduanya, divonis oleh Hakim masing-masing dua dan 1,5 tahun penjara. Keduanya dinilai terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan berencana kepada Novel.

Rahmat dan Ronny terbukti bersalah karena melanggar Pasal Subsider 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Lebih Subsider Pasal 351 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (jpc)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...