Mengunjungi Kampung 1.000 Nama, Nyaris Terlupakan, Warga Dirikan Rumah Replika Kerajaan


Penulis Rudiansyah

FAJAR.CO.ID, GOWA– Dulu, Kecamatan Tombolo Pao ada banyak kasta. Satu dusun saja, ada banyak nama kampung. Hanya berjarak sekira 20 meter.

Saat berada di Dusun Pao, Desa Pao, Kecamatan Tombolo Pao, berjalanlah sekira 20 meter. Sesungguhnya, daerah itubernama Kampung Sapa Bodo.

Jika beranjak 20 meter lagi, maka kawasan perkampungan lainnya berhasil dijajaki. Bisa saja Kampung Manjalling, Bondong, Buakang Mata, Bonto, Sapolohe, Bulukumba, Anging Mammiri, atau kampung lainnya.

Setiap kampung memiliki kebiasaan dan budaya tersendiri. Bergantung dari kasta atau kelas masyarakatnya.

“Tetapi sudah tertinggal zaman. Hanya tersisa nama kampungnya saja. Kami menyebutnya kampung 1000 nama,” kata wargaDesa Pao, Daeng Pole (52).

Desa Pao dulunya daerah kerajaan kecil yang dikuasai Arung Pao. Peninggalannya masih ada. Berupa perkakas rumah tangga, terbuat dari tembaga. Bahkan bendera kerajaannya masih ada tersimpan sampai sekarang. Tetapi kurang terawat.

Bahkan tiang rumah kerajaan masih ada sampai sekarang. Tersisa satu saja. Tiang itu terbuat dari batang pohon cabai. Warga menyebutnya Benteng Tateppo. Artinya tidak patah atau mending keropos isinya daripada patah.

Pohon cabai itulah yang dipermak warga, menjadi bangunan rumah replika yang dibangun di tengah jalan Dusun Pao.

Nama kampung 1000 nama diukir di rumah replika bernama Bola Ca’dia itu. Di sebalah gunung (air terjun kembar) itu desa simbang (dipisah). Golongannya mereka beda. Sebenarnya Desa Pao ini punya ikatan dengan orang Kajang, Bulukumba.

Komentar

Loading...