Berburu Sinyal di Puncak Gunung Loa


Penulis: Hamdani Saharuna

FAJAR.CO.ID—Saya ingat betul ketika kali pertama sinyal masuk Lombang. Sebuah dusun di Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, bagian barat Sulawesi. Penduduk takjub, anak muda berubah menjadi keren.

Tak ada lagi yang keluar dari rumah secara serampangan. Pemuda seragam dengan rambut undercut berpomade, sedang wanitanya rapi dengan tampilan ala Nisa Syabyan. Vokalis Gambus yang tengah naik daun.

Tujuan mereka satu, duduk di ujung lapangan kampung dengan telepon dalam genggaman. Berebut sinyal Telkomsel untuk menghadirkan logo edge di pojok kanan atas. Jika beruntung, hasil swafoto termuat di medsos dan notifikasi lancar. Kalaupun tidak, komunikasi dua arah tetap jalan. Mama Nur bisa meluapkan rindunya ke anak-cucunya di rantau, sedang pemilik akun Ilham Amburadul bisa menggaet lawan jenis via Facebook dengan caption menarik di fotonya. Walau foto dan keterangan gambarnya kadang tak sinkron.

Namun berbeda dengan pelajar yang kini wajib tatap muka dalam jaringan. Tangkapan sinyal di kampung takkan bisa menuntaskan misi belajar mereka. Tak elok, jika guru sedang menjelaskan lantas mereka menghilang tiba-tiba karena sinyal yang lemah. Maka mau tak mau, Darmi dan belasan anak lainnya memilih mendaki puncak Gunung Loa. Tempat di mana tampilan 4G lebih konsisten.

Pagi buta mereka menyiapkan bekal. Selain buku, kotak makan yang didominasi nasi dengan ikan alakadarnya ikut masuk ke dalam tas. Pun air putih dan karung untuk alas mereka duduk. Semua dibawa agar tak perlu pulang hanya untuk mengisi perut. Pasalnya, puncak gunung lumayan jauh, menyusuri jalan kampung, hutan bambu yang berjarak tiga kilometer. Kalau dihitung jam, durasinya lebih dari sejam.

Komentar

Loading...