Kasus Covid-19 di Bogor Naik, Bima Arya: Ini Sangat Berbahaya

Selasa, 4 Agustus 2020 14:28

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto--jawa pos

FAJAR.CO.ID, BOGOR – Kasus Covid-19 di Kota Bogor kembali terjadi di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Pra-Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Total kasus hingga saat ini positif Covid-19 di Kota Hujan menjadi 301 kasus.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, kenaikan kasus terjadi karena kedisiplinan dan kekhawatiran warga yang mulai menurun.

“Saya membaca satu situasi yang sangat mengkhawatirkan. Covid-19 naik tetapi kekhawatiranya menurun, disiplinnya menurun. Ini yang sangat berbahaya,” ujar Bima kepada Radar Bogor, Senin (3/8).

Naiknya jumlah kasus konfirmasi di Kota Bogor kata dia, merupakan salah satu indikator menuju puncak Covid-19 dan itu masih sesuai prediksi. Meski demikian, Bima mengaku tak sependapat dengan penilaian bahwa Indonesia telah menghadapa gelombang kedua.

“Gelombang pertama saja belum tuntas. Gelombang dua itu kalau sudah mentok kemudian flat-nya menurun,” jelas dia.

Bima menjelaskan saat ini Kota Bogor sedang menghadapi sejumlah klaster persebaran Covid-19. Antara lain, klaster keluarga, luar kota, fasilitas kesehatan, hingga klaster perkantoran.

Banyaknya klaster penularan baru ini menurut dia, karena kurang pedulinya masyarakat terhadap bahaya Covid-19.

“Tidak mungkin klaster keluarga melonjak kalau semua yang merasa beresiko berhati-hati,” paparnya.

Sebagai alumnus pasien corona, Bima menceritakan, kemungkinan kembali terpapar Covid-19 untuk kedua kalinya begitu kecil. Namun, ia menyatakan, tetap mengedepankan antisipasi dan tetap menjaga kebersihan.

“Setiap pulang ke rumah tidak pernah menyapa anak, langsung nerobos ke kamar mandi bersih-bersih semua. Jadi saya kadang-kadang bisa lima kali mandi di rumah itu. Keluar lagi masuk lagi, mandi lagi,” jelasnya.

Ke depan, pihaknya akan kembali meningkat kewaspadaan terhadap bahaya Covid-19 dengan memperketat protokol kesehatan. Bahkan, Suami Yane Ardian itu meminta kegiatan tatap muka organisasi perangkat daerah (OPD) kembali dikurangi dan dilakukan secara daring.“Situasi ini masih gawat, lebih baik dibilang lebay, dari pada kemudian kita kalah. Betul orang bilang lebay, berlebihan, lebih baik dicap begitu daripada kalah dan korban berjatuhan,” tegasnya.

Ia berkaca pada negara Vietnam yang dianggap berhasil karena dapat menekan angka persebaran Covid-19.

Sedangkan permasalahan Kota Bogor bukan daerah yang terisolasi, tetapi terintegrasi dengan Jakarta, kabupaten Bogor dan daerah sekitarnya. Kondisi ini yang menyebabkan sulitnya menekan kasus Covid-19.

“Jakarta juga tak bisa dibilang aman karena diperpanjang lagi (PSBB,red). Kota Bogor pun demikian, menjadi satu dari sekian kota yang terus diperpanjang PSBB-nya karena belum aman. Kita akan perpanjang satu bulan kedepan dengan pengetatan,” tegas Bima.

Dia menambahkan, Pemkot Bogor kini sedang menyiapkan petunjuk teknis agar setiap warga kota Bogor yang melakukan perjalanan dinas ke luar kota wajib lapor.

“Ya kalau ke Jakarta enggak usah lapor enggak apa-apa, kalau ke kabupaten enggak usah lapor enggak apa-apa. Tapi siapa saja harus harus clear,” ucapnya.

Kemudian yang kedua, siapa saja yang habis melakukan perjalanan dinas khusunya dari daerah zona merah persebaran Covid-19 harus melakukan tes usap.

“Termasuk perjalanan dinas dari semua intansi, dari kampus, dan juga dari kantor-kantor,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Bogor Dedie Rachim mengatakan, secara garis besar imported cases atau kasus penularan positif Covid-19 yang berasal dari luar Kota Bogor, menjadi penyumbang terbesar di Kota Hujan.

Tak heran, jika pemerintah Kota Bogor, menjadikan hal ini sebagai catatan. Berdasarkan data dari Satgas Covid-19 Kota Bogor, jumlah total pasien positif covid-19 di Kota Bogor pada Senin (3/8) mencapai 301 kasus positif. Dengan rincian 202 sembuh, 21 meninggal dan 78 lainnya masih dalam pengawasan dan penanganan rumah sakit.

“Jadi orang-orang yang bertugas, bekerja dan beraktivitas di luar Kota Bogor komposisinya paling besar dan penyumbang kasus positif tertinggi,” kata Dedie.

Ia juga meminta kepada masyarakat, yang hendak dan setelah pergi dari Kota Bogor, agar melaporkan diri kepada RW Siaga Covid-19 setempat, agar bisa dipantau dam diawasi demi meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan bersama. (radarbogor/jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
2
3
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar