Singa Putih

Selasa, 4 Agustus 2020 08:33

Ayah sang kiai sudah meninggal lama. Tapi sang ayah masih sempat menyaksikan kiprah anaknya itu membangun pesantren. Sang ayah juga sering ikut pengajian anaknya. “Ayah saya selalu saya pakai contoh sebagai ayah yang mulia. Yakni ayah yang tidak canggung ikut mengaji ke anak,” ujar kiai seperti ditirukan Sholeh.

Yang juga menarik: istighotsah di pondok ini dilakukan dengan cara melantunkan syair. Kesannya lebih berdendang syair daripada istighotsah. Syair itu juga gubahan sendiri sang kiai.

Dalam syair itu dilantunkan dulu kalimat pujian pada Tuhan dalam bahasa Arab. Lalu disambung lantunan syair dalam bahasa Jawa. Dilagukan. Dengan irama yang berbeda-beda.

Pondok ini juga tidak mau menerima BOS (bantuan operasional sekolah). Atau bantuan apa pun dari pemerintah. Juga tidak mau minta-minta sumbangan. Justru tamu-tamu yang datang, pulangnya diberi uang. Disangoni jimat. Termasuk bupati sekali pun.

Setelah mendengar itu saya menjadi ragu. Apakah jimat saya itu isinya juga uang. (*)

Bagikan berita ini:
7
2
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar