Reshuffle Solusi Jauhi Resesi, Fondasi Ekonomi Bergeser ke Daerah

Grafis EKonomi Sulsel

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Indonesia berada di tepi jurang resesi. Ekonomi di triwulan kedua tumbuh negatif. Termasuk Sulsel. Reshuffle kabinet jadi solusi terakhir.

Ekonomi nasional di triwulan II terkontraksi cukup dalam. Negatif 5,32 persen year on year (yoy). Agar kembali positif di triwulan III tentu bukan pekerjaan mudah. Sangat berat. Perlu kerja keras.

Pertumbuhan ekonomi negatif ini nyaris terjadi di seluruh 34 provinsi. Hanya Papua dan Papua Barat yang positif. Di Sulsel, juga terkontraksi, -3,87. Sudah masuk praresesi.

Jika triwulan III kembali mengalami kontraksi, maka Indonesia masuk ke jurang resesi. “Dan kemungkinan itu terjadi. Berat untuk bisa tumbuh,” menurut Ekonom Unhas, Prof Marsuki DEA.

Rektor Institute Bisnis dan Keuangan (IBK) Nitro Makassar ini mengaku tidak heran. Kontraksi pertumbuhan ekonomi ini sudah diprediksi. Bahkan diprediksi Indonesia bakal terkontraksi hingga tujuh persen.

Hal itu, kata dia, bisa dilihat dari sektor utama penunjang pertumbuhan ekonomi. Di mana sektor perdagangan belum bergerak. Begitupun sektor potensi, belum bergerak sama sekali.

Seperti potensi trasportasi dan pergundangan. Keduanya paling terkontraksi. Tembus -51,15 persen.

Selain itu, ia menilai kebijakan pemerintah untuk penanganan coronavirus desease 2019 (coivd-19) masih setengah hati. Akibatnya, masyarakat pun setengah hati terhadap aturan pemerintah. Kondisi pun semakin kacau.

Di mana, kata dia, daya beli berkurang. Sebab, pendapatan rendah. Banyak terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pemotongan gaji, usaha bangkrut, hingga tutup.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...