Koruptor Rp100 M Dihukum Penjara Seumur Hidup, Denny Siregar: Hukum Mati Sekalian Napa?

Gedung Mahkamah Agung-- jawa pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Mahkamah Agung (MA) mengeluarkan Peraturan MA Nomor 1 Tahun 2020. Perma ini dibuat untuk menghindari disparitas (perbedaan) hukuman yang mencolok bagi satu koruptor dengan koruptor lainnya.

Salah satu simulasi hukuman dalam Perma tersebut adalah hukuman seumur hidup yang bisa dijatuhkan kepada terdakwa korupsi Rp100 miliar lebih, kesalahan tinggi, dampak tinggi dan keuntungan terdakwa tinggi.

Menanggapi aturan baru tersebut, pengiat media sosial, Denny Siregar menilai hukuman seumur hidup dengan penjara 16-20 tahun belum cukup.

“Duh, nanggung amat @MahkamahAgung .. Hukum mati sekalian napa ? Biar negara juga gak berat2 amat nanggung biaya penjaranya..,” tulisnya di akun Twitternya, Jumat (7/8/2020).

Diketahui, Perma itu ditandatangani oleh Ketua MA Syarifuddin dan diundangkan pada 24 Juli 2020. Perma ini berlaku untuk terdakwa korupsi yang dijerat dengan Pasal 2 atau Pasal 3 UU Tipikor. Prinsipnya, terdakwa merugikan keuangan negara.

“Untuk menghindari disparitas perkara yang memiliki karakter serupa, diperlukan pedoman pemidanaan,” demikian hal menimbang Perma Nomor 1 Tahun 2020 yang dikutip fajar.co.id. (msn/fajar)

Perma ini membagi lima kategori koruptor:

  1. Paling paling berat yaitu kerugian negara lebih dari Rp 100 miliar.
  2. Kategori berat yaitu kerugian negara Rp 25 miliar-Rp 100 miliar.
  3. Kategori sedang yaitu kerugian negara Rp 1 miliar-Rp 25 miliar.
  4. Kategori ringan yaitu kerugian negara Rp 200 juta-Rp 1 miliar.
  5. Kategori paling ringan yaitu kurang dari Rp 200 juta.

Selain faktor uang negara yang dicuri, hukuman yang dijatuhkan mempertimbangkan kesalahan, dampak, dan keuntungan bagi si koruptor. Ada tiga jenis kesalahan, yaitu:

Komentar

Loading...