Ini Golkar Bung !

Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal

Keberhasilan melewati fase kritis tuntutan pembubaran Golkar –selanjutnya menjadi Partai Golkar– kokoh tahan banting berikut kemampuan mengadaptasi diri secara cepat. Hantaman dahsyat kaum reformis yang harus dihadapi saat itu memaksa mereka belajar cepat. Tak mudah memang. Tapi berhasil. Jika dimungkinkan, sejarah kegemilangan Orde Baru ingin dihapuskan dari memori kolektif kita. Saya tak yakin apakah itu berhasil atau sebaliknya.

Beberapa pihak menyebut Golkar kejam ‘meninggalkan’ Pak Harto di saat paling krusial. Tapi bayangkan seandainya Ginandjar Kartasasmita dkk tetap memilih membentengi Pak Harto atas nama setia kawan. Kita tahu dimana akhirnya.

Dalam catatan politik saya selama 13 tahun terakhir di pusat pertarungan politik elit nasional, para kader, pengurus dan atau pekerja politik Partai Golkar bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Karena mantera Cendana yang dulu demikian mujarab kini tak ada lagi maka mereka harus berusaha agar kesalahan masa lalu tak terulang sambil berharap rakyat melupakan kesewenangan kroni Pak Harto dimana mereka pernah dan menjadi aktor utama. Seluruh sumber daya politik, jaringan kuat dan naluri-naluri purba politik mereka nyalakan dan optimalkan. Meski Golkar relatif gagal melahirkan pemikir politik namun berhasil mencetak banyak aktor politik yang bertumbuh secara cepat dan dengan kemampuan politik praktis yang mengagumkan.

Dalam hal perilaku organisasi, secara kedalam (internal) mereka membuka mata dan pikiran akan segala kemungkinan. Termasuk perbedaan yang bahkan dilakukan dengan terbuka bahkan ekstrim. Sungguh berbeda dengan masa Pak Harto dulu yang menyerahkan segala nasib ke tangan Cendana dan antek-anteknya.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...