Ini Golkar Bung !

Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal

Secara keluar (eksternal), para kader Partai Golkar berusaha sekuat tenaga menunjukkan diri partai kuat. Mereka tak mudah percaya. Itulah alasan Golkar tak mudah menerima kehadiran orang baru. Setidaknya pada fase-fase awal reformasi. Meski hal itu mulai luntur yang terlihat pada beberapa hasil Munas Golkar terakhir, namun Partai Golkar sangat selektif pada orang baru. Analogi gerbong terakhir bagi pendatang tergambarkan disini terutama bagi layer menengah bawah. Tapi bukan itu yang menarik.

Tata cara Partai Golkar menyikapi segala problem dan konflik selalu memantik diskursus publik. Perubahan sikap dengan cara yang sangat ekstrim sering dilakukan dan membingungkan. Kejelian memahami kemana bandul politik mengebas lalu disikapi dengan cara yang sama. Mereka tak terganggu dengan risiko moral politik dua wajah (ambivalensi). Realitas politik dihadapi dengan perlakuan sama dalam hal cara mengelola segala problem dan rencana keputusan yang akan dilakukan berikut risikonya kelak.

Saya tiba-tiba mengingat esai Paul Ricouer –The Political Paradox– (1965), sebagai reaksi atas revolusi Hongaria. Kata Paul Ricouer, “politics only exist in great moments in ‘crisis'”. Menurut Paul, bahwa politik sejatinya memiliki asal muasal ganda –politik yang rasional, dan, politik yang durjana (a specifically political rasionality anda a specifically political evil). Dibuat dalam bahasa sederhana, Paul Recouer menegaskan demarkasi politik ditandai oleh rasionalitas dan wahana kekuasaan.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...