Ini Golkar Bung !

Direktur Eksekutif Nagara Institute, Akbar Faizal

Para penggiat Partai Golkar tampaknya memahami betul cara mencapai kemenangan dihadapan realitas yang menghadirkan (risiko) ambivalensi tadi. Titik nadir yang pernah mereka hadapi dan jalani pada 1998 tak boleh terulang. Salah satu caranya, memainkan dan atau berdiri pada posisi aman dalam segala cuaca dan dengan cara apapun. Tapi saya tak tertarik menggunakan pendekatan Machiavelian disini sebab banyak pihak yang fasih mengutip Machiavelli hanya dari sudut pandang ‘The Prince’ (1513) dan mengabaikan pandangan moral republikan Machiavelli dalam karyanya yang lain yang sama dahsyatnya, The Discourse.

Kembali ke cara berpikir ala Golkar tadi, maka kelirulah adanya jika ingin memahami sikap, perilaku dan tindakan (anak-anak) Golkar dengan cara partai lain mengelola diri dan konflik masing-masing. Golkar bisa melakukan dan atau mengambil metode dan cara yang tak terkira. Termasuk berhadapan dengan logika publik. Misal, menafikan keputusan organisasi yang diambil secara konstitusional organisasional sebelumnya. Golkar dilatih untuk tidak gampang kaget apalagi sakit hati. Bukankah sebuah ketololan jika menyiapkan diri untuk sakit hati dalam (peristiwa) politik? Sayangnya anak-anak Golkar –seperti halnya anak-anak partai lainnya– gampang terpukau. Mungkin karena dosa turunan karena Golkar adalah ibu genealogis banyak partai saat ini.

Sebab keterpukauan –terutama pada figur– dalam skala yang berlebihan bisa menjadi racun efektif bagi masa depan politik kita. (*)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...