Kosong Satu Kerja Sendiri, Pasangan Belum Bisa Jadi Gate Voter

Empat bakal calon walikota Makassar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Empat figur bakal calon wakil wali kota Makassar perlu kerja keras membantu kosong satu. Harus mampu menjadi gatevoters (penarik suara).

Pemilihan Wali Kota Makassar mengerucut pada empat kandidat. M Ramdhan Pomnato, Munafri Arifuddin, Syamsu Rizal, dan Irman Yasin Limpo. Keempat figur ini sudah dikenal di Kota Makassar. Cukup populer. Termasuk elektabilitasnya saling bersaing.

Keempat pasangan ini tentunya perlu didukung figur yang bisa mendongkrak tingkat keterpilihannya.

“Secara ketokohan, mereka bukan figur yang lahir dari dinamika sosial politik di Makassar. Kekuatan elektoralnya belum terukur,” kata Pengamat politik Unismuh, Andi Luhur Prianto.

Ia menilai, semua bakal calon wakil wali kota yang mengemuka bukan berlatarbelakang politikus di pentas politik Makassar. Ada yang birokrat, profesional dan politisi avonturir. Hal ini dikarenakan penentuan pasangan calon lebih berbasis determinasi elite oligarki. Bukan kesamaan visi dan gagasan.

“Wajar saja kalau beberapa calon wakil yang terpilih memiliki kaitan kekerabatan dengan elite partai politik,” tegasnya.

Lebih jauh ia berharap partai politik tidak merendahkan kecerdasan pemilih, dengan tidak mengusung pasangan calon yang tidak kompeten untuk menghadapi tantangan kemajuan kota.

“Problem utamanya ketika wakil kepala daerah terpilih yang memiliki back up elite, tetapi minim pengalaman justru menambah daftar panjang relasi disharmoni hubungan kepala daerah dan wakil kepala daerah,” paparnya.

Tantangan terbesarnya, diakuinya, para kandidat yang terhitung baru perlu lebih intens memperkenalkan diri. Secara masif. “Misalnya melalui aksi soft-campaign pada jejaring sosial politik yang dimiliki,” imbuhnya.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Firdaus Muhammad menilai, idealnya wakil hanya sebagai pelengkap. Tetapi, dalam proses kontestasi pilkada dapat menjadi penarik suara. Sehingga wakil berkontribusi menyempurnakan pasangan,” tegasnya.

Secara umum, ia menilai, empat kandidat kosong dua yang kini menguat muncul belum ada yang mengimbangi pasangannya. “Jadi masih didominasi kosong satu. Sementara kosong dua belum mampu jadi gate voters (penarik suara),” paparnya.

Pengamat Politik Unhas, Andi Ali Armunanto menyatakan, bakal wakil wali kota Makassar yang saat ini belum memiliki rekam jejak besar untuk bertarung. Tergolong baru.

Sehingga memiliki tantangan dalam memastikan diri bisa membantu menaikkan tingkat keterpilihan pasangan mereka. “Memang harus lebih bekerja keras memperkenalkan diri,” paparnya.

Melihat latar belakang seperti politikus, birokrat dan profesional pasti ada nilai plus dan minusnya. Bagi wakil wali kota yang berasal dari kalangan politikus seperti Fatmawati Rusdi Masse, nilai plusnya bersifat terbuka dan dapat mengakomodasi kepentingan banyak pihak.

“Cenderung mampu menjaga hubungan dengan DPRD atau legislatif. Terbiasa ada konflik dan kompromi. Sebab, di dewan kan juga orang politik semua,” tegasnya.

Sisi minusnya, politikus cenderung banyak kompromi dan kepentingan yang ingin dimasukkan ke pemerintahan. “Jadi kepentingan partai bisa saja didorong masuk ke pemerintahan. Bisa terjadi disharmoni,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, bakal calon wakil wali kota, Abdul Rahman Bando menyampaikan niatnya mendampingi Munafri Arifuddin (Appi) karena memang memiliki niat bisa mengabdi lebih besar untuk Kota Makassar.

Mengabdi 22 tahun di pemerintahan merupakan modal besar. “Bisa melengkapi Pak Appi yang profesional bisnis,” paparnya, Minggu, 9 Agustus.

Ia menepis anggapan, tanpa latar belakang politik akan kesulitan dan kerepotan bertarung di dunia politik. “Pemimpin daerah itu kan intinya setelah terpilih mereka akan mengelola pemerintahan. Beda kalau mau jadi anggota dewan tentu pengalaman politik yang dibutuhkan,” paparnya.

Bakal calon wakil wali kota, Andi Zunnun Nurdin Halid juga sama. Ia tak menampik dirinya selalu diasosiasikan dengan sosok Nurdin Halid yang tidak lain merupakan ayahnya. Tetapi, ia memastikan niat untuk maju berasal dari dirinya sendiri.

“Saya sempat ada niat untuk melanjutkan studi ke Amerika, tetapi terbersit niat ingin maju dan berkontribusi memajukan Kota Makassar,” paparnya.

Ia juga menepis, keraguan dengan usia yang tergolong muda dan minim pengalaman politik mendampingi Irman Yasin Limpo (None). Ia mengaku punya pengalaman. Apalagi ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Sulsel dari fraksi Golkar.

Ia juga pernah bertarung di pemilihan legislatif untuk menjadi anggota DPRD Sulsel dan suara yang berhasil dikumpulkan pun tergolong besar.

“Suara yang saya kumpulkan itu 23 ribu sekian untuk dapil Bone. Peringkat ketiga untuk dapil Bone, tetapi adanya peraturan baru KPU dalam penentuan kursi jadi belum rezeki,” paparnya.

Adapun bakal calon wakil wali kota, Fadli Ananda selain muda, ia juga banyak aktif di organisasi. Termasuk, menjabat bendahara umum Banteng Muda Indonesia (BMI) Sulsel. Organisasi sayap PDIP.

“Sederet amanah itu menempa saya memimpin dan menjalankan amanah yang lebih besar sebagai wakil wali kota Makassar,” kata Fadli.

Direktur RSIA Ananda ini mengaku memilih terjun ke politik dengan harapan bisa melecut generasi muda Sulsel untuk berani terjun ke dunia politik. Tak peduli bagaimana latar belakangnya.

“Saya ingin membangun harapan bahwa politik menjadi jalan bagi generasi muda dalam membangun bangsa dan negara,” paparnya. (abd/abg/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...