Twit Bikin Polemik, Jimly Asshiddiqie: Ya, Makanya Ditanya Pak Mahfud MD

Anggota DPD RI Jimly Asshiddiqie --jawa pos

Pengalaman Prof sebelumnya dalam menilai saat di Dewan Gelar, pertimbangannya apa saja?

Ya, ada tren. Trennya itu adalah di masa Pak Jokowi ada keinginan kuat mempermahal harga bintang itu. Maksudnya, jadi makin diperketat. Ada keinginan begitu. Nah, kedua, kualifikasinya diturunkan.

Misalnya, yang tadinya utama, Bintang Mahaputra Utama, sekarang dijadikan Nararya, begitu. Jadi yang diberikan itu lebih rendah dari sebelum-sebelumnya. Jadi harganya lebih mahal (tidak diobral, red).Kemudian, ketiga, itu ada keinginan kuat bahwa orang diberi penghargaan bukan karena jabatan tetapi karena pengabdian. Jadi substansi bukan karena jabatan. Jangan otomatis mantan ketua DPR, mantan ketua ini, ketua ini otomatis dapat, belum tentu.

Jadi ya, harus dengan pertimbangan kualifikasi, kualitas dan integritas pengabdian. Begitu. Poin keempat supaya tidak konflik kepentingan, selama menjabat belum dinilai dulu. Nanti kalau sudah tidak menjabat baru dikasih.

Itu antara lain, empat hal itu yang menjadi pegangan dalam menilai dan pemberian (tanda jasa), karena ini adalah penghargaan resmi dari negara. Karena itu, yang diberi penghargaan bukan hanya orang karena jabatan. Bisa saja orang tidak punya jabatan. Misal, Syafi’i Maarif, Romo Magnis Suseno.

Itu kan tidak punya jabatan tetapi karena peran dia dalam kehidupan kebangsaan, makanya diberi Bintang Mahaputra. Itu di zaman saya dulu itu. Itu contohnya.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar