Twit Bikin Polemik, Jimly Asshiddiqie: Ya, Makanya Ditanya Pak Mahfud MD

Anggota DPD RI Jimly Asshiddiqie --jawa pos

Jadi Romo Magnis bukan pejabat, begitu juga Syafi’i Maarif bukan pejabat dapat bintang juga. Maka tokoh-tokoh masyarakat, lalu aktivis LSM, itu berhak dapat penghargaan dari negara juga.

Yang keenam, ada faktor bahwa penghargaan ini tidak hanya untuk orang dalam negeri. Kita juga resiprokal, karena banyak tokoh-tokoh kita dihargai di luar negeri oleh negara lain maka kita juga harus mempertimbangkan memberi penghargaan kepada tokoh-tokoh negara lain. Karena kita harus hadir dalam pergaulan antarnegara.

Soal perdebatan penghargaan untuk Fahri dan Fadli sebaiknya dijelaskan secara gamblang oleh Menko Polhukam ya Prof?

Iya. Itu kan ada pertimbangannya. Tidak perlu hanya gara-gara pro kontra. Itu kan yang diberi penghargaan ini bukan hanya yang pro-pemerintah, yang antipemerintah juga enggak apa-apa. Kenapa mesti yang pro pemerintah saja?

Ini kan para pendukung pemerintah yang mempersoalkannya. Jangan begitu dong. Kita ini negara.Yang pro pemerintah itu kan golongan, golongan penguasa namanya.

Berarti golongan oposisi tidak berhak untuk dihargai?

Salah cara berpikir begitu. Kan tidak begitu dong. Kalau orang itu kritis kepada pemerintahan apa masalahnya? Ini kan kita bicara sebagai negara, bukan sebagai pemerintahan politik, bukan partai. Jadi jangan dipersempit bernegara itu berpolitik saja, bernegara itu berpartai saja, bernegara itu bergolongan saja.

Bernegara itu bukan hanya lovers tetapi juga haters. Itu kan bagian dari bangsa juga. Begitu. Jadi jangan medioker dalam melihat kehidupan kebangsaan kita. Ini kan sudah 75 tahun kita merdeka, masak masih diciutkan cara berpikir kita menjadi mediocrity.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar