Kejiwaan Gilang Diperiksa, Penyimpangan Seksual Dirasakannya Sejak Kecil

CEK KEJIWAAN: Gilang Aprilian Nugraha Pratama saat diperiksa dr Roni Subagyo di RS Bhayangkara Polda Jatim, Rabu (12/8). (Polrestabes Surabaya for Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JATIM — Gilang Aprilian Nugraha Pratama memiliki kecenderungan penyimpangan seksual sejak lama. Keluarga juga mengetahui kelainan itu. Namun, tindakannya dulu tidak berlebihan. Warga Kapuas, Kalimantan Tengah, tersebut tidak sampai mengintimidasi orang lain.

Fakta itu terungkap saat pemuda 23 tahun tersebut menjalani pemeriksaan kejiwaan di RS Bhayangkara Polda Jatim, Rabu (12/8). Dokter Roni Subagyo SpKJ memeriksanya sekitar tiga jam. ”Hasil kejiwaan secara resmi belum keluar. Namun, gambarannya sudah terlihat,” kata Kasatreskrim Polrestabes Surabaya AKBP Sudamiran.

Gilang tidak mengalami gangguan kejiwaan. Secara umum kondisinya normal. Hanya, dia mempunyai penyimpangan seksual. Gilang merasakannya sejak masih kecil. ”Dia suka orang yang tertutup kain, apalagi jenis jarik,” ujar polisi dengan dua melati di pundak itu.

Gilang, jelas dia, mulai bertindak di luar kendali ketika menjalani masa kuliah di metropolis. Dia mendapat kesempatan di awal kuliah.

Status sebagai seorang mahasiswa membuatnya percaya diri. Gilang saat itu sudah mendapat tempat kos. Di sisi lain, ada kenalannya dari luar kota yang kebingungan tempat tinggal. Gilang lantas menawarkan tempat kosnya untuk tempat menetap sementara.

Sudamiran menuturkan, tersangka diam-diam melancarkan aksinya ketika temannya tertidur. Dia menutupinya dengan kain. Gilang menjadikannya objek fantasi seksual.

Gilang ketagihan. Dia kemudian mencari objek lain untuk memuaskan hasratnya. Langkah yang ditempuh adalah mencari kenalan di media sosial (medsos). Dia beralasan sedang melakukan riset untuk meyakinkan korban mau dibungkus kain.

Sudamiran menambahkan, tersangka tidak sekadar membujuk. Gilang juga melakukan pengancaman kalau permintaannya tidak dituruti. Dia tidak segan bakal bunuh diri kalau mendapat penolakan. ”Korban akhirnya terintimidasi,” paparnya.

Gilang berulang-ulang menjalankan modus serupa. Dalam pemeriksaan, dia mengaku korbannya mencapai 25 orang. Mereka tidak hanya berdomisili di Kota Pahlawan. Melainkan juga di luar kota. ”Karena perkenalannya dari medsos,” katanya.

Sudamiran mengatakan, latar belakang penyimpangan seksual itu masih dianalisis psikiater. ”Yang jelas, indikasi tersangka pernah menjadi korban pelecehan seksual sudah terbantah. Gilang mengaku tidak pernah menjadi korban dalam penyidikan,” tuturnya.

Kanitresmob Polrestabes Surabaya Iptu Arief Ryzki Wicaksana mengatakan, korban yang membuat laporan belum bertambah. Jumlahnya masih lima orang. Namun, dia memprediksi laporan bisa bertambah.

Arief menambahkan, pemeriksaan psikiater yang dijalankan penting bagi pemberkasan perkara. Hasilnya akan dilampirkan penyidik untuk memperkuat tindak pidana. ”Untuk memaksimalkan penyidikan,” sebutnya.

Sebagaimana diberitakan, kasus itu diusut polisi setelah viral di medsos. Gilang diburu setelah beberapa korbannya membuat unggahan pengakuan. Gilang dalam aksinya meminta para korbannya membungkus diri dengan kain melalui pesan di WhatsApp. Dalihnya untuk keperluan riset. Dia membubuhkan ancaman saat meminta.

Mantan mahasiswa yang di-drop out salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) itu mengaku mengidap penyakit vertigo. Dia bisa bunuh diri kalau permintaannya tidak dituruti. Diketahui, permintaan itu tidak ada kaitan dengan riset. Gilang menjadikan bungkusan manusia itu untuk fantasi seksual. Gilang akhirnya diringkus di kampung halamannya. Dia dijerat pasal 29 jo 45b UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan pasal 335 KUHP. (jpc)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar

Saksikan video berikut: