Penambang Pasir Laut Hancurkan Habibat Ikan, Hukum Seolah Hanya Tajam ke Bawah

FOTO: ISHAK/FAJAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Warga Pulau Kodingareng Lompo merasa telah terjadi ketidakadilan. Bahkan menganggap hukum di negeri ini tumpul ke atas, namun tajam ke bawah.

Hal itulah yang mereka rasakan beberapa bulan terakhir ini. Salah seorang nelayan yang enggan namanya disebut, mengatakan bahwa pihaknya kini merasa hukum hanya tajam ke bawah.

Saat dia mengeruk sebanyak satu ember pasir saja di rumahnya, ibu ini justru dilarang dan dimarahi oleh pemerintah setempat di pulau tempat tinggalnya itu.

“Saya pernah hanya keruk seember pasir, malah dilarang oleh RK setempat. Padahal hanya untuk menutupi jalan becek dekat rumah saya,” kata ibu berjilbab hitam ini, di depan Kantor Gubernur Sulsel, Jumat (14/8/2020).

Jika dibandingkan dengan aktivitas PT Boskalis, kata dia,penambang asal Belanda itu telah mengeruk pasir dan hancurkan karang dalam jumlah besar.

Dari situ, tangkapan nelayan saat mencari ikan tenggiri dan seluruh jenis ikan lainnya menurun drastis.

Olehnya itu, para nelayan rela menginap selama satu hari di depan gerbang Kantor Gubernur Sulsel untuk bertemu langsung dengan Nurdin Abdullah (NA).

Sebagai orang nomor satu di Provinsi Sulawesi Selatan, NA diminta untuk mencabut izin operasi PT Boskalis yang dianggap merugikan ekonomi nelayan di sana.

“Kami menginap di sini hanya untuk bertemu pak gub untuk cabut izin tambang pasir itu. Tapi sia-sia. Hanya gigitan nyamuk dan rasa lapar yang kami dapatkan di sini selama nginap,” kata seorang nelayan, Mantasia, 23 tahun.

Komentar

Loading...