Enam Tahun Bebas Berkeliaran, Terdakwa Kasus Korupsi Pembangunan Jembatan di Gowa Akhirnya Ditahan

ILUSTRASI. (int)

FAJAR.CO.ID, GOWA– Perkara korupsi pembangunan jembatan Sungai Lampasa, Gowa, putus ditingkat kasasi 25 Maret 2014. Namun, terdakwa baru berhasil ditahan, Kamis, 13 Agustus kemarin.

Berdasarkan putusan Mahkamah Agung nomor Nomor 184 K/PID.SUS/2013, terdakwa A. Masyhur Mansur, telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Korupsi secara bersama- sama dan berlanjut”;

Sehingga Mahkamah Agung menjatuhkan pidana terhadap Masyhur Mansur dengan pidana penjara selama empat tahun dan pidana denda sebesar Rp200 juta dengan ketentuan, jika denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama enam bulan.

Kepala Kejaksaan Negeri Sungguminasa, Yeni Andriani, mengatakan, putusan perkara korupsi pembangunan jembatan Sungai Lampasa ditingkat kasasi baru diterima 10 Agustus 2020. Sehingga, terdakwa baru dieksekusi.

“Alhamdulillah, tidak cukup waktu lama setelah putusan kami terima, terdakwa langsung kami eksekusi,” kata Yeni Andriani kepada FAJAR, Jumat, 14 Agustus.

Terdakwa Masyhur Mansur, sebutnya, merupakan ASN di Dinas Pemukiman dan Prasarana Gowa yang sekarang sudah menjadi Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Gowa. “Terdakwa sudah berstatus pensiunan PNS,” ungkapnya.

Saat perkara bergulir, Masyhur Mansur masih berusia 56 tahun (kini, Masyhur Mansur berusia 67 tahun). Ia menjabat sebagai Pimpinan Proyek (Pimpro) pembangunan jembatan sungai Lampasa, Gowa pada tahun 2004/2005.

Sebagai Pimpro, CV Putra Galesong sebagai pihak ketiga yang mengerjakan pekerjaan pembangunan jembatan sungai Lampasa dengan surat perjanjian 03/DTW/PJK-DAK/Kont/X/2004, 15 Oktober 2004 dengan nilai kontrak Rp500.395.000, gagal menyelesaikan pekerjaannya dalam jangka waktu pekerjaan 60 hari.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...