Kisah Hidup Transgender Amalia, Kini Jadi Amar Al-Fikar

Amar Al-Fikar saat masih menjadi sosok perempuan. Foto: Twitter Amar Al-Fikar

Dia berupaya melupakan kegalauannya. Amar memilih tenggelam dalam kegiatan pengembangan siswa di bangku sekolah menengah atas. Saat itu, krisis identitasnya pun seolah terkaburkan. Meski kebingungan tentang siapa dirinya tak pernah sirna.

“Saya dari dulu merasa berbeda, apa dan siapa sebenarnya saya. Pas SMA terkaburkan rasanya, karena saya ikut banyak kegiatan. Tetapi rasanya (krisis identitas) nggak ilang-ilang,” ingatnya.

Bangku kuliah menjadi jalan awal bagi Amar untuk menemukan dirinya. Dia yang gemar membaca berbagai karya sastra, memilih mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Banyak waktunya dia habiskan di perpustakaan. Lewat berbagai buku, dia bertemu dengan cakrawala baru, tentang keberagaman gender, identitas seksual, dan juga Islam.

“Saya nggak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saya. Hingga pada saat kuliah, wawasan saya semakin terbuka. Saya membaca buku tentang keberagaman, gender, Islam, identitas, seksualitas. Dan di situ saya menemukan muaranya,” beber Amar.

Berbagai buku dan wawasan baru membuatnya tak lagi ingin berlari dari pertanyaanya. Rasa ingin tahu untuk menemukan dirinya, semakin membuncah.

Di tanah suci, tahun 2012, dia menitipkan keresahannya, melangitkan doanya, meminta agar Tuhan memberi petunjuk tentang pertanyaanya, tentang identitas dirinya.

Mencari Bantuan Psikolog

Doanya dihijabah. Amar memberanikan diri mencari psikolog. Lantaran psikolog di kota asalnya terbatas, Amar memutuskan pergi ke Semarang hingga Jogjakarta.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...