Konsep Merdeka Belajar, FSGI Minta Ketegasan Kemendikbud

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) FSGI Satriwan Salim (Istimewa)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengaku bingung atas konsep Merdeka Belajar. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) diminta untuk jujur terkait konsep tersebut, apakah konsep ini berdasarkan Sekolah Cikal atau Ki Hadjar Dewantara.

“Merdeka Belajar saat ini merujuk pada perusahaan yang pedekatannya company liberalism atau yang mana?” kata Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) FSGI Satriwan Salim dalam diskusi online, Senin (17/8).

Bila konsep Merdeka Belajar berasal dari bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, Satriwan meminta hal itu dibuktikan. Sebab, selama ini dia tidak pernah menemukan adanya naskah akademik Merdeka Belajar milik Kemendikbud.

“Ketika Kemendikbud bilang kami (konsep Merdeka Belajar, Red) merujuk ke Ki Hadjar Dewantara, kami bertanya konsep mana yang dikembangkan Mendikbud. Toh kami tidak pernah menemukan naskah akademik Merdeka Belajar itu,” ucapnya.

Satriwan menuturkan, pembuktian akan konsep ini sangat penting dilakukan oleh Kemendikbud. Pasalnya, Kemendikbud sendiri yang mengaku bahwa itu merupakan gagasan Ki Hadjar Dewantara.

“Nah, jadi kami meminta Kemendikbud merumuskan secara paradigmatik. Merdeka Belajarnya Ki Hadjar atau Merdeka Belajar a la PT Cikal. Ini harus jelas. Karena apa? Karena pendeketan ala Ki Hadjar ada irisan dan cukup banyak dengan PT Cikal,” imbuh Satriwan.

Seperti diketahui, Sekolah Cikal telah menghibahkan merek dagang Merdeka Belajar kepada Kemendikbud. Instansi ataupun lembaga pendidikan pun juga bisa menggunakan merek tersebut asalkan tujuannya untuk memajukan generasi bangsa.

Komentar

Loading...