Penularan Covid-19, Korsel Karantina Ribuan Jemaat Gereja dan Selandia Baru Tunda Pemilu

TANGGUNG JAWAB: Pengacara Gereja Sarang Jeil menggelar konferensi pers pada Senin (17/8). Gereja tersebut menjadi klaster baru penularan Covid-19 di Korsel. Sekitar 3.400 jemaat gereja diminta melakukan karantina (JUNG YEON-JE / AFP)

FAJAR.CO.ID — Negara-negara yang sebelumnya dipuji karena berhasil mengendalikan penularan Covid-19, kini banyak yang kelimpungan.

Klaster-klaster baru bermunculan setelah mereka melonggarkan aturan. Contohnya, ribuan jemaat dari beberapa gereja di Korea Selatan terpaksa dikarantina karena positif Covid-19.

Sekitar 5.200 kasus terkait dengan klaster Gereja Sarang Jeil dan Shincheonji. Lee Man-hee, pemimpin Gereja Shincheonji, ditahan awal bulan ini dengan tuduhan menyembunyikan data jemaatnya. Imbasnya, pelacakan sulit dilakukan.

Sementara itu, pemerintah Selandia Baru terpaksa menunda pemilu selama sebulan karena munculnya penularan lokal baru. Sementara itu, di Korea, muncul klaster gereja yang memaksa pemerintah melakukan karantina terhadap ribuan jemaat.

Seharusnya pesta demokrasi Selandia Baru digelar 19 September nanti. Namun, PM Selandia Baru Jacinda Ardern pada Senin (17/8) memutuskan penundaan hingga 17 Oktober.

”Keputusan ini memberi waktu bagi semua partai untuk berkampanye selama sembilan pekan ke depan,” ujar Ardern dalam sesi konferensi pers sebagaimana dikutip Agence France-Presse. Komisi penyelenggara pemilu juga bakal punya waktu lebih banyak untuk memastikan acara tiga tahunan itu berlangsung dengan aman.

Perubahan jadwal tersebut terkait dengan penularan lokal yang ditemukan di Auckland Rabu lalu (12/8). Padahal, Selandia Baru sudah mencetak rekor 102 hari tanpa penularan lokal. Beberapa kasus yang aktif berasal dari luar negeri dan pasien sudah diisolasi.Hingga kemarin, total ada 58 kasus yang terkait klaster Auckland. Sejak adanya kasus baru, kota terbesar di Selandia Baru itu di-lockdown.

Komentar

Loading...