Mulyono Merdeka


Mulyono juga ingin membantu peternakan ayam. Agar kotoran ayam itu bisa jadi pupuk yang berharga.Pabrik pupuk, ternak ikan, ternak cacing, ternak lalat, dan ternak belatung itu kini jalan semua. Pun di zaman Covid-19 ini. Tidak ada bisnis Mulyono yang terganggu.

“Ternak ikan itu tidak akan untung kalau tidak bisa mengembangkan sumber protein sendiri,” ujar Mulyono.

Saya merasa beruntung bisa bertemu sosok seperti Mulyono. Soal bisnis semua menyenangkan. Yang membuat ia gelisah adalah hutang bank itu. Yang kian tahun kian besar nilainya.

“Hutang ke bank itu seperti mengisap candu. Bisa kecanduan,” katanya. Pun kian lama hutang itu kian besar pula.

Di tengah kegalauan itu, Mulyono mendengar istilah masyarakat tanpa riba (MTR). Mulyono pun ingin bergabung menjadi anggota MTR. Ia akhirnya memang bisa menjadi anggota MTR, tapi tidak seperti yang ia bayangkan.

“Dulu, saya bayangkan asyik sekali. Dengan menjadi anggota MTR kita akan mendapat pinjaman tanpa bunga dari MTR untuk melunasi hutang bank yang berbunga,” ujar Mulyono.

“Pokoknya yang saya bayangkan itu sangat asyik,” guraunya. Ternyata tidak begitu.

Dengan menjadi anggota MTR Mulyono hanya mendapat kesempatan pendidikan bagaimana bisa melunasi hutang. Pendidikan itu berjenjang. Satu tahap perlu waktu dua hari.

“MTR menjadi kampus baru saya. Dari unlearning ke relearning,” katanya. “Kami kembali belajar bisnis, manajemen, keuangan dan juga belajar kehidupan yang lebih bermakna,” katanya.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR