Mulyono Merdeka

Rabu, 19 Agustus 2020 09:37

Kapan-kapan saya akan menulis soal model pendidikan MTR ini. Berikut jenjangnya. Terutama bagaimana kurikulum itu bisa ‘meracuni’ anggotanya untuk melunasi hutang.

Kebetulan, mertua Mulyono itu aktivis Muhammadiyah di Sragen. Ia guru SMAN Gemolong untuk ilmu ekonomi. Gemolong adalah satu kecamatan di Sragen (40 km), tapi lebih dekat ke Solo (20 km).

Istrinya sendiri lulusan akuntansi Universitas Muhammadiyah Solo. Awalnya sang istri ingin jadi pegawai negeri. Sang suami sebenarnya tidak ingin istrinya jadi pegawai negeri. Tapi sang istri nekat.

Pada hari pertama berangkat bekerja, sang istri berubah pikiran. Di tengah perjalanan menuju instansi tempatnya bekerja itu sang istri berhenti. Lalu balik pulang. Akhirnya dia ikut kehendak suami.

Sekarang sang istri menjadi kepala keuangan perusahaan suaminyi itu. Dengan karyawan tetap 60 orang dan karyawan tidak tetap 500 orang.

Di Gemolong itu pula Mulyono kini dipercaya untuk membangun lembaga pendidikan Muhammadiyah. Di atas tanah-tanah waqaf.

Pelunasan hutangnya sendiri dilakukan setelah ia mendapat pendidikan di MTR itu. Hari itu juga Mulyono pergi ke bank. Kepada petugas bank, Mulyono mengatakan ingin mengakhiri hutangnya. Ia akan membayar seluruh pokoknya. Tapi ia minta dibebaskan sisa bunganya.

Petugas bank, kata Mulyono, sampai marah-marah. Hutang kok dilunasi. Bank sangat senang mempunyai nasabah seperti Mulyono. Pembayaran pokok dan bunganya lancar. Tidak pernah telat. Usahanya pun terus berkembang. Kok tiba-tiba tidak mau punya hutang.

Komentar


VIDEO TERKINI