Pekan Depan,4 Pintu Pendakian Rinjani Dibuka

SEGERA DIBUKA : Suasana area perkemahan di Pos Pendakian Rinjani, jalur Sembalun Lombok Timur beberapa waktu lalu. (Zulhakim/Lombok Post)

FAJAR.CO.ID, MATARAM-Industri pariwisata NTB memiliki momentum untuk bangkit kembali. Pendakian Gunung Rinjani akhirnya dibuka 22 Agustus. Empat pintu pendakian yakni jalur Senaru, Sembalun, Aik Berik, dan jalur Timbanuh, dapat diakses seluruhnya oleh para pendaki. Untuk sementara, kuota masih dibatasi dan para pendaki wajib pakai masker.

”Aktivitas pendakian dilakukan dengan paket dua hari satu malam dan kuota maksimal 30 persen dari kunjungan normal,” kata Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Dedy Asriady dalam keterangan pers, di Mataram, kemarin (18/8).

Sebenarnya, kata Dedy, ada lima jalur pendakian yang hendak dibuka. Tapi jalur Torean batal dibuka karena ada insiden yang menyebabkan seorang pendaki meninggal beberapa waktu lalu. Meski mendaki secara ilegal, namun tetap menjadi bahan evaluasi.

”Untuk Torean semoga sampai akhir tahun ini kami bisa menyelesaikan perbaikan sehingga bisa dinyatakan aman,” katanya.

Sedangkan empat jalur pendakian lainnya dinyatakan aman. Balai TNGR telah memperbaiki infrastruktur yang rusak akibat gempa 2018. Meski demikian, jumlah pendaki masih dibatasi karena pandemi.

Jalur Sembalun Sampai Puncak

Dari empat jalur itu, hanya jalur Sembalun yang bisa sampai ke puncak Rinjani. Tiga jalur lainnya belum bisa didaki sampai puncak. ”Jalur Sembalun sampai puncak dinyatakan aman dan nyaman,” katanya.

Lebih lanjut Dedy menjelaskan, rute pendakian jalur Sembalun dimulai dari pintu masuk Sembalun menuju Pelawangan Sembalun, puncak Gunung Rinjani atau Danau Segara Anak. Kuota maksimal 45 orang pengunjung per hari.

Sementara jalur pendakian Senaru dimulai dari Jebak Gawah Senaru sampai Pelawangan Senaru dan Danau Segara Anak, dengan kuota maksimal 45 pengunjung per hari.

Kemudian jalur pendakian Aik Berik, dimulai dari Jebak Gawah Aik Berik sampai Pelawangan Aik Berik, dengan kuota maksimal 30 orang per hari.

Sedangkan jalur pendakian Timbanuh dari pintu masuk Timbanuh sampai Pelawangan Timbanuh, dengan kuota maksimal 30 orang pengunjung per hari.

”Para pendaki wajib melakukan booking online melalui aplikasi eRinjani yang dapat diunduh di Playstore,” imbuhnya.

Pembukaan jalur pendakian, kata Dedy, telah mendapat izin Direktur Jenderal KSDAE Kementerian LHK. Balai TNGR juga telah mendapatkan rekomendasi pembukaan kegiatan pariwisata dari bupati LombokTengah, Lombok Timur, dan Lombok Utara.

TNGR juga memperoleh sertifikat cleanliness, healthy, safety, and environment (CHSE) dari Pemprov NTB sebagai destinasi wisata yang lulus uji kelayakan implementasi protokol kesehatan.

Untuk menjamin keamanan pendakian, Balai TNGR menggelar pelatihan evakuasi bagi tim evakuasi Edelweis Medical Health Centre (EMHC) bekerja sama dengan KUN Humanity System. ”Pelatihan ini guna mendukung kelancaran evakuasi pengunjung,” jelasnya.

Balai TNGR menjamin aktivitas pendakian menerapkan protokol Covid-19 secara ketat. Protokol itu diterapkan mulai pintu masuk, saat di lokasi wisata, sampai keluar pintu wisata.

Pakai Masker

Wisatawan diwajibkan menggunakan masker, membawa hand sanitizer/sabun cair, trash bag, menjaga jarak minimal satu meter, membawa surat keterangan bebas Covid-19 bagi pendaki dari luar NTB, atau bebas gejala influenza bagi pendaki dari Pulau Lombok.

Insiden membeludaknya pendaki di bukit Sempana dan insiden Propok, Sembalun menjadi pelajaran. Pemerintah akan menggandeng aparat keamanan untuk mengawasi pendakian.

Jika terjadi insiden yang mengganggu, melanggar SOP dan membahayakan pengunjung, jalur pendakian tidak segan-segan ditutup. ”Penyelenggaraan aktivitas pendakian akan dievaluasi secara berkala,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal dalam pertemuan itu menjelaskan, pemerintah tidak mau penularan virus terjadi di destinasi wisata. ”Kalau di Rinjani seperti itu kejadiannya (Propok) kita tutup lagi, tidak bisa lagi mereka mendaki,” katanya.

Bagi pengunjung yang tidak pakai masker, mereka dilarang mendaki. ”Kami akan minta mereka kembali,” tegasnya.

Pembukaan pendakian, lanjut Faozal, sudah melalui persiapan matang. Prinsip-prinsip CHSE harus dijalankan untuk menjamin keamanan. ”CHSE ini menjadi acuan bagi taman nasional,” imbuhnya.

Faozal berharap, pembukaan pendakian kembali menggairahkan pariwisata NTB. Tapi saat ini, target kunjungan bukan wisatawan mancanegera, melainkan wisatawan lokal. ”Penggerakan pariwisata kita fokus pada wisatawan domestik,” katanya.

”Rinjani akan menjadi penentu bangkitnya pariwisata kita di masa pandemi,” tambahnya.

Sejak gempa 2018, pembukaan pendakian belum bisa maksimal. Meski dibuka tahun lalu, namun tidak sampai puncak. Kondisi itu berdampak pada warga yang menggantungkan hidup di sana.

Gunung Rinjani yang merupakan Unesco Global Geopark (UGG) Rinjani-Lombok dan Cagar Biosfer Rinjani Lombok menyerap tenaga kerja 1.731 orang porter dan guide, serta dan 131 trekking organizer.

Wisata Non Pendakian Ditambah

Selain pendakian, Balai TNGR juga kembali membuka destinasi wisata alam non pendakian baru dan menambah kuota pengunjung di delapan destinasi yang dibuka sebelumnya.

Berdasarkan surat Dirjen KSDAE Nomor: S.660/KSDAE/PJLHK/KSA.3/7/2020, Balai TNGR meningkatkan kuota kunjungan di delapan destinasi menjadi 50 persen dari kuota normal. ”Pada pembukaan tahap satu dulu kuotanya hanya 30 persen,” jelas Kepala Balai TNGR Dedy Asriady.

Delapan destinasi itu yakni Otak Kokok Joben kuota maksimal 325 pengunjung per hari. Telaga Biru 220 orang, Air Terjun Jeruk Manis 200 orang, Gunung Kukus 150 orang, Timbanuh dengan objek wisata berupa Air Terjun Mayung Polak maksimal 100 pengunjung. Kemudian Sebau 36 orang, Savana Propok 250 orang, dan Air Terjun Mangku Sakti maksimal 150 orang per hari.

Balai TNGR juga membuka kunjungan wisata alam non pendakian baru dengan kuota 30 persen dari kuota normal. Antara lain Treng Wilis dengan kuota maksimal 150 pengunjung per hari. Bendungan Ulem-Ulem dengan kuota maksimal 150 pengunjung per hari.

Selanjutnya Tangkok Adeng dengan kuota maksimal 225 pengunjung per hari. Bukit Gedong dengan kuota maksimal 150 pengunjung per hari. Serta bukit Malang dengan kuota maksimal 75 pengunjung per hari.

Secara keseluruhan ada 13 destinasi wisata alam non pendakian dibuka dari 17 destinasi yang ada di kawasan TNGR. (ili/r6)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...