Pemkab Gowa Abaikan Pendidikan Anak Petani

Muh Syarif, Muh Syahrul, dan Muh Iksan yang hanya belajar seadanya di rumahnya, tanpa ponsel android yang sulit mereka miliki. (Ishak/Fajar)

FAJAR.CO.ID, GOWA– Belajar daring tidak berjalan maksimal. Banyak anak petani yang terabaikan pendidikannya.

Begitu yang dialami ketiga putra Sudirman Daeng Tappa dan Subaedah. Sudah empat bulan ketiga anaknya tidak mengikuti pembelajaran melalui dunia maya karena tak memiliki gawai.

Warga Dusun Punaga, Desa Maradekaya, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa itu hanya penggarap sawah milik orang lain. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan saja. Mustahil untuk membelikan gawai cerdas untuk anaknya.

“Putra saya Muh Syarif sudah SMP kelas tiga, kalau adiknya Muh Syahrul juga SMP kelas satu, dan yang paling kecil Muh Iksan SD kelas lima. Cuma baca buku saja di rumah,” kata Sudirman kepada FAJAR.

Sudirman mengaku anaknya memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Sebab, semuanya rajin mengerjakan tugas. Akan tetapi, entah kenapa banyak nilainya kurang memuaskan.

“Mereka sering mengeluh. Karena tidak bisa belajar online seperti temannya yang lain,” bebernya.

Situasi yang dialami Sudirman, ternyata sudah seringkali didengarkan anggota DPRD Gowa. Banyak orang tua meminta agar pembelajaran di sekolah dilaksanakan.

“Setiap saat keluhan ini saya terima. Artinya, pembelajaran daring ini memang tidak maksimal. Makanya, perlu memang dicarikan formula agar semua siswa bisa sekolah,” kata Anggota DPRD Gowa, Nasaruddin Sitakka, Senin, 24 Agustus.

Menurutnya, pembelajaran tatap muka sudah bisa dimulai. Akan tetapi dengan metode berbeda. “Misalnya hari Senin kelas satu saja yang masuk sekolah. Selasa kelas dua yang masuk, Rabu kelas tiga dan seterusnya,” ungkapnya.

Komentar

Loading...