Joker Seret Politikus Sulsel, Disebut Ikut Temani Jaksa Pinangki ke Malaysia

Andi Irfan Jaya

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Kasus skandal suap Djoko Tjandra merembet ke Sulsel. Seorang elite partai politik Sulsel pun ikut terseret-seret.

Politikus Sulsel yang terseret dan telah diperiksa tim Kejagung bernama Andi Irfan Jaya. Kesaksian ketua Bappilu Partai Nasdem Sulsel ini dibutuhkan untuk pendalaman kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Djoko Tjandra atau Joker.

Andi Irfan disebut tim penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Khusus merupakan teman dekat jaksa Pinangki Sirna Malasari, yang sudah ditetapkan tersangka. Informasinya, politikus asal Kabupaten Soppeng ini ikut menemani Pinangki bertemu Djoko Tjandra di Malaysia.

Skandal Djoko Tjandra ini memang menyeret jaksa Pinangki yang dinilai berperan membantu terpidana Djoko Tjandra dalam melakukan upaya peninjauan kembali (PK) ke PN Jakarta Selatan atas putusan MA. Pinangki pun saat ini sudah ditahan di rumah tahanan Kejagung.

Irfan yang juga coba dimintai keterangan juga seperti menghilang. Dua nomor kontaknya yang dihubungi tidak aktif. Irfan sebelumnya juga sempat masuk radar Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang akan didorong di Pilkada Soppeng. Beberapa rekannya yang dihubungi juga enggan berkomentar.

Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Hari Setiyono mengaku pihaknya telah memeriksa Andi Irfan Jaya. Masih sebatas saksi. Pemeriksaan dilakukan Direktur Penyidikan pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI.

Pemeriksaannya, kata dia, berdasarkan Surat Perintah Penyidikan: Print-47/F.2/Fd,2/08/2020 telah melakukan pemeriksaan terkait penyidikan perkara dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terhadap pegawai negeri atau penyelenggara yang menerima hadiah atau janji dengan terperiksa Jaksa Pinangki S Malasari.

“Saksi yang diperiksa atau diminta keterangannya itu saudara Andi Irfan Jaya. Sudah diperiksa Senin kemarin,” ungkapnya.Pemeriksaan saksi dilaksanakan dengan memperhatikan protokol kesehatan tentang pencegahan penularan covid 19. Antara lain dilaksanakan dengan memperhatikan jarak aman dengan Penyidik.

Penyidik pun sudah menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap serta bagi saksi wajib mengenakan masker dan selalu mencuci tangan menggunakan hand sanitizer sebelum dan sesudah pemeriksaan.

Kata Hari, saksi sebenarnya sudah pernah dipanggil pada 10 Agustus lalu. Tetapi, dijadwal ulang karena alasan sakit. Sehingga pemeriksaan yang bersangkutan baru dapat dilakukan Senin kemarin.

“Pemeriksaan Irfan ini terkait dengan peristiwa upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan terpidana Djoko Tjandra secara diam-diam. Kami tidak tahu soal profil Irfan Jaya,” bebernya.

Menurutnya, pemeriksaan Irfan Jaya itu dilakukan guna mencari serta mengumpulkan bukti. “Dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam pasal 1 angka 2 KUHAP,” jelasnya.

Sementara itu, penyidik Bareskrim Polri juga sudah memeriksa Joko Soegiarto Tjandra alias Joe Chen alias Joker. Dalam pemeriksaan itu, terpidana kasus cessie Bank Bali ini mengakui telah menyuap dua jenderal polisi. Irjen Pol Napoleon Bonaparte dan Brigjen Pol Prasetijo Utomo. Perwira tinggi itu kini berstatus tersangka.

“Ada 55 pertanyaan yang diajukan penyidik. Hal-hal teknis terkait pertanyaan penyidik, yang bisa disampaikan soal aliran dana, suap oleh saudara JST kepada para tersangka,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Awi Setiyono di Mabes Polri, kepada FAJAR Indonesia Network (FIN).

Hingga kini, penyidik masih menelusuri siapa saja yang terlibat. Begitu juga uang yang mengalir dalam suap-menyuap terkait kasus surat jalan dan red notice tersebut. Tetapi, mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya ini tidak menyampaikan secara detail nominal uang suap dari Joko Tjandra ke dua jenderal polisi itu.

“Misalnya di mana, kapan, kepada siapa saja uang diberikan. Dari hasil pemeriksaan, tidak bisa kami sampaikan secara keseluruhan. Apalagi terkait nominalnya. Karena masih berproses. Yang bersangkutan sudah mengakui telah memberikan sebanyak uang tertentu pada para tersangka,” paparnya.

Saat Joko Tjandra diperiksa, penyidik juga menghadirkan barang bukti. “Barang bukti yang selama ini disita, dihadirkan dalam pemeriksaan. Hal itu disampaikan dan ditunjukan kepada tersangka. Yang bersangkutan mengakui. Dia juga memberikan uang kepada para tersangka lain terkait red notice,” imbuhnya.

Sementara itu, Tommy Sumardi tidak datang memenuhi panggilan Bareskrim Polri. Pengacara Tommy Sumardi menyampaikan kliennya sedang sakit. Awi menyatakan, penyidik akan menjadwalkan ulang pemeriksaannya.

Menurut Awi, pengacara Tommy Sumardi berkomitmen kliennya akan memenuhi panggilan berikutnya. “Tentunya nanti akan dijadwalkan ulang. Namun sesuai janjinya, yang bersangkutan menyampaikan akan berkenan hadir,” ucapnya.

Terpisah, tim kuasa hukum Anita Kolopaking mengatakan polisi harus menguji surat jalan Joko Tjandra lewat uji Laboratorium Forensik Kriminal. Hal ini dianggap penting untuk mengetahui apakah surat tersebut palsu atau tidak.

“Siapa pemalsunya, dan di mana letak kepalsuannya. Apabila kebenaran kepalsuan surat masih dipertanyakan dan belum pernah diperiksa dan dibuktikan, bagaimana mungkin Anita Kolopaking dapat menjadi tersangka telah melakukan suatu tindak pidana,” kata Tim Kuasa Hukum Anita Kolopaking, Senin, 24 Agustus.

Anita disebut tak pernah memegang atau melihat surat tersebut. Surat jalan itu diberikan kepada Joko Tjandra untuk perjalanan dari Jakarta ke Pontianak. Joko Tjandra dalam surat itu tertulis sebagai konsultan di kepolisian. Tim kuasa hukum juga menyebut surat itu berada di tangan ajudan Brigjen Pol Prasetijo Utomo.

Mereka juga menyatakan surat jalan tersebut asli dikeluarkan oleh Bareskrim Mabes Polri. “Apabila Bareskrim menyatakan surat tersebut palsu karena tak boleh dikeluarkan, hal itu dianggap permasalahan internal Bareskrim. Sebab, Anita hanya melihat keaslian Kop Bareskrim dan tanda tangan Brigjen Prasetijo. Sehingga Anita tidak tahu bahwa surat itu palsu,” paparnya. (fik-fin/abg/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...